Saatini Jogja AMP
Berita Jogja

Bergoyang Demi Air Bersih, Senandung Gotong Royong di Konser Amal Hari Jadi Gunungkidul ke-196

Gunungkidul – Suasana Alun-alun Wonosari malam itu, Jumat malam, (09/10/2026) begitu hangat dan penuh suka cita. Warga masyarakat, jajaran pengusaha, hingga jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (F...

Oleh Tim Saat Ini

Gunungkidul – Suasana Alun-alun Wonosari malam itu, Jumat malam, (09/10/2026) begitu hangat dan penuh suka cita. Warga masyarakat, jajaran pengusaha, hingga jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Gunungkidul berkumpul bersama memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul yang ke-196. Namun, pesta rakyat kali ini tidak sekadar perayaan biasa. Di balik dentuman musik dan gelak tawa, ada misi kemanusiaan yang diusung melalui gelaran Konser Amal Hari Jadi Gunungkidul.

Peringatan tahun ini mengusung filosofi mendalam melalui tema “Gayeng guyub, waras ragane, tentrem atine”. Tema tersebut melambangkan semangat kebersamaan yang hangat, kesehatan raga untuk berkarya, serta kedamaian batin dan keharmonisan sosial di tengah masyarakat. Mengutip ajaran Bung Karno mengenai gotong royong, Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan bahwa perayaan ini merupakan wadah aksi nyata untuk membantu sesama, khususnya warga Gunungkidul yang terdampak bencana hidrometeorologi dan kekeringan.

Aturan Unik: “Goyang Wajib Bayar” dan Aksi Saweran
Salah satu momen paling menarik malam itu adalah ketika Bupati Endah mencetuskan aturan khusus di atas panggung. Kalau biasanya menonton konser atau berjoget itu gratis, malam itu di panggung kehormatan berlaku aturan unik: siapa yang bergoyang, wajib membayar donasi!

Para pejabat, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), hingga tamu undangan diajak untuk “ngamen” dan menyumbang. Untuk deretan VIP di sebelah kiri panggung, syarat bergabung diatur minimal menyumbang setara satu tangki air bersih, sementara area sebelah kanan disediakan untuk donasi sukarela.

Antusiasme donatur mengalir deras sepanjang acara. Pada awal sambutan, donasi terkumpul tercatat senilai Rp47,5 juta, yang di antaranya disokong oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Sinarmas sebesar Rp30 juta. Gelombang kepedulian terus berlanjut dengan tambahan donasi dari Mbak Muji sebesar Rp10 juta, serta deretan saweran spontan dari warga dan jajaran pengusaha. Hingga penutupan acara, total donasi yang terkumpul melonjak hingga mencapai Rp124 juta.

Nostalgia Era 70-an dan Hiburan Lintas Generasi
Kemeriahan semakin lengkap dengan penampilan grup musik OM Lorensa, yang sukses menghibur penonton dari berbagai lapisan umur. Musik yang dibawakan berhasil menyatukan anak-anak muda hingga para pejabat daerah. Menariknya, Sekretaris Daerah (Sekda) dan para Asisten Pemkab tampil unik dengan busana ala era 70-an, bernostalgia mengenang masa-masa sekolah.

Di penghujung acara, grup OM Lorensa menutup panggung lewat lagu Karmila sembari menyampaikan apresiasi kepada Bupati, jajaran pengamanan dari Polsek dan Dandim, panitia, serta seluruh masyarakat yang hadir.

Pesta Rakyat yang Tertib dan Transparan
Usai konser, Bupati Endah Subekti mengapresiasi seluruh warga dan pihak yang terlibat karena acara berlangsung aman, tertib, disiplin, dan tanpa kerusuhan. Bupati menjelaskan bahwa seluruh hasil donasi akan dikelola secara akuntabel oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul untuk program bantuan dropping air bersih di titik-titik kekeringan.

Seluruh proses penyaluran dan laporan pertanggungjawaban donasi dapat dipantau langsung oleh masyarakat melalui akun media sosial resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul serta media sosial Bupati Gunungkidul. Rangkaian perayaan hari jadi ini pun masih akan berlanjut dengan agenda berikutnya, yaitu Gunungkidul Night Carnival.

Sumber: Pemkab Gunungkidul