Di tengah era perubahan berlangsung lebih cepat daripada kemampuan organisasi untuk memahami seluruh situasi. Perguruan tinggi memerlukan kepemimpinan navigasional. Sebab dalam kondisi tertentu, pemim...
Di tengah era perubahan berlangsung lebih cepat daripada kemampuan organisasi untuk memahami seluruh situasi. Perguruan tinggi memerlukan kepemimpinan navigasional. Sebab dalam kondisi tertentu, pemimpin tidak selalu memiliki informasi yang lengkap ataupun gambaran utuh mengenai persoalan yang dihadapi. Bakan pemimpin tidak bisa lagi hanya mengandalkan sosok yang dianggap paling mengetahui jawaban dan mampu memberikan kepastian. Sebaliknya, seorang pemimpin perlu melibatkan banyak pihak untuk membaca situasi, berbagi penilaian, serta mengakui ketidakpastian yang ada.
“Tidak ada satu orang pemimpin, baik di kementerian atau industri yang memiliki gambaran persoalan secara keseluruhan. Setiap pihak hanya memiliki sebagian dari gambaran tersebut,” jelasnya Professor Mike Hardy, akademisi dari Inggris yang saat ini menjabat sebagai Professor of Intercultural Relations sekaligus pendiri Centre for Trust, Peace, and Social Relations (CTPSR) di Coventry University dalam workshop Leadership Sharing Session di ruang multimedia Gedung Pusat UGM, Selasa (20/10).
Menurut Hardy, kondisi perubahan sekarang ini menuntut perubahan cara pandang terhadap model kepemimpinan. Ia juga membedakan krisis dengan rupture, yakni kondisi ketika pola atau keadaan lama terputus sehingga tidak bisa begitu saja dipulihkan. Jika krisis kerap dipahami sebagai gangguan yang dapat diatasi agar keadaan kembali normal, rupture menuntut pemimpin untuk menerima bahwa situasi telah berubah dan membangun pendekatan baru.
Dalam situasi seperti ini, Hardy menekankan pentingnya memiliki tujuan yang jelas sekaligus tetap fleksibel dalam menentukan strategi. Tujuan organisasi perlu dijaga, tetapi cara untuk mencapainya tidak harus selalu sama. “Pemimpin harus bersedia mengevaluasi dan mengubah pendekatan apabila situasi menunjukkan bahwa strategi sebelumnya tidak lagi sesuai,” paparnya.
Untuk membantu pemimpin memahami situasi secara lebih menyeluruh, Hardy memperkenalkan empat cara pandang, yakni melihat ke luar (looking out), melihat bersama pihak lain (looking together), melihat menembus persoalan (looking through), dan melihat ke dalam diri (looking in). “Keempatnya membantu pemimpin memahami lingkungan eksternal, mendengar perspektif berbagai pihak, menelusuri persoalan yang mendasar, serta merefleksikan nilai dan asumsi yang memengaruhi keputusan,” ungkapnya.
Hardy turut menyoroti pentingnya membangun kepercayaan melalui tindakan nyata. Menurutnya, masyarakat tidak cukup diyakinkan melalui pernyataan atau laporan, tetapi juga perlu melihat perubahan yang benar-benar dilakukan oleh pemimpin. “Karena itu, pekerja, mitra, dan pihak terkait perlu dilibatkan sejak proses pengambilan keputusan, bukan hanya diberi penjelasan setelah keputusan ditetapkan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan navigasional bukan berarti organisasi berjalan tanpa arah. Namun memiliki tujuan harus tetap jelas meskipun jalur yang ditempuh dapat berubah mengikuti situasi. “Pendekatan ini menempatkan kepemimpinan sebagai proses yang adaptif, kolaboratif, berorientasi pada tujuan, dan berlandaskan etika,” pungkasnya.
Menurutnya, kepemimpinan tidak sekadar berkaitan dengan jabatan, tetapi juga kemampuan untuk mengarahkan organisasi, mengambil keputusan, dan mendorong perubahan positif. “Karena itu, pemimpin UGM perlu mampu menghadapi tantangan masa depan tanpa meninggalkan identitas dan nilai-nilai universitas,” tuturnya.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
Artikel Hadapi Era Perubahan Cepat, Perguruan Tinggi Didorong Terapkan Kepemimpinan Navigasional pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
Sumber: Universitas Gadjah Mada