Aksi demonstrasi Hari Sumpah Pemuda di Yogyakarta berujung ricuh dengan bentrokan massa dan polisi yang meluas dari Gedung DPRD DIY hingga kawasan Malioboro. Kericuhan yang melibatkan pelemparan batu dan penggunaan water cannon membuat pusat kota mencekam serta aktivitas ekonomi lumpuh total, memaksa pedagang menutup toko lebih awal.
YOGYAKARTA, jogja.saatini.com - Aksi demonstrasi memperingati Hari Sumpah Pemuda di Yogyakarta pada Rabu (28/10/2026) malam berujung ricuh.
Bentrokan sengit antara massa dan aparat kepolisian pecah di sejumlah titik vital, mulai dari depan Gedung DPRD DIY hingga Jalan Perwakilan di kawasan Malioboro.
Massa aksi melontarkan petasan, kembang api, batu, hingga benda keras ke arah kompleks DPRD DIY dan barikade polisi.
Tak hanya itu, pembakaran barang-barang di tengah jalan membuat suasana pusat kota Yogyakarta mencekam hingga aktivitas ekonomi lumpuh total.
Guna mengendalikan situasi, kepolisian mengerahkan mobil water cannon untuk memukul mundur massa. Akibat eskalasi kerusuhan ini, para pedagang di kawasan wisata Malioboro terpaksa menutup toko mereka lebih awal demi keamanan.
Berikut adalah empat fakta penting terkait kericuhan demonstrasi di Yogyakarta yang dirangkum dari tayangan YouTube Tribunnews dan Tribun Jogja:
Eskalasi kericuhan yang dimulai Rabu malam menjangkau beberapa area strategis di kawasan Malioboro. Di depan Gedung DPRD DIY, massa menembakkan kembang api ke halaman gedung dan berupaya mendobrak gerbang utama. Hujan batu dan benda keras tak terelakkan menghantam tameng aparat kepolisian yang bertahan di lokasi.
Kericuhan merembet ke persimpangan tiga Jalan Perwakilan. Petugas kepolisian yang bersiaga mendapat serangan bertubi-tubi dari arah utara dan selatan hingga terdesak mundur ke arah timur.
Sementara itu, di dekat Simpang Pajaksan dan sepanjang jalur Malioboro, massa membakar kerucut lalu lintas (traffic cone) serta merusak barikade jalan. Bentrokan yang pecah sejak sore hari pukul 18.45 WIB dilaporkan baru berangsur mereda di beberapa titik menjelang pukul 21.00 WIB.
Berdasarkan rekaman video di lokasi kejadian, ketegangan bermula saat letupan kembang api diarahkan ke dalam kompleks gedung wakil rakyat tersebut.
Suasana kian memanas ketika massa merusak tempat sampah di pinggir jalan dan menggunakan serpihannya sebagai amunisi untuk dilemparkan ke arah petugas.
Aksi pembakaran fasilitas jalan juga terjadi di tengah jalan sekitar Simpang Pajaksan dekat Jalan Perwakilan. Kerucut lalu lintas dan berbagai barang bekas dibakar massa, memicu kepulan asap hitam di tengah kawasan wisata tersebut.
Aparat kepolisian berulang kali memberikan imbauan tertib melalui pengeras suara, namun tidak diindahkan oleh massa. Untuk mengurai kerumunan yang semakin brutal, polisi akhirnya menyemprotkan air menggunakan mobil water cannon ke arah utara dan selatan Jalan Malioboro.
Kendati tindakan pembubaran telah dilakukan, jumlah massa justru dilaporkan terus bertambah. Di Jalan Perwakilan, posisi petugas sempat terjepit karena dihujani serangan dari dua arah sekaligus (utara dan selatan), sehingga memaksa pasukan memilih mundur ke sisi timur guna menghindari eskalasi bentrokan yang lebih parah.
Dampak dari bentrokan maraton ini membuat denyut nadi kawasan Malioboro terhenti seketika. Suasana yang biasanya ramai oleh wisatawan berubah menjadi mencekam.
Khawatir dampak kerusuhan meluas dan menyasar tempat usaha, para pedagang di sepanjang koridor Malioboro memilih menghentikan aktivitas jual beli.
Toko-toko, lapak, dan pertokoan dengan cepat mengunci rapat pintu rolling door mereka di tengah desakan riuh bentrokan massa dan petugas.