Mengingat besarnya potensi kewirausahaan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., mengimbau agar par...
Mengingat besarnya potensi kewirausahaan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., mengimbau agar para pelaku usaha, investor, dan masyarakat lokal saling terhubung. Langkah ini dinilai krusial agar usaha tidak hanya berkembang, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata atas tantangan sosial dan ekonomi yang ada.
“Ternyata Yogyakarta ini memiliki ekosistem entrepreneur yang luar biasa. Di APKJ (Asosiasi Pengusaha Kreatif Jaya) saja sudah sekitar 300 anggota. Bapak dan Ibu sekalian inilah yang termasuk penggerak ekonomi lokal,” ujar Danang, dalam Meet The Investor #3 yang bertajuk “From Purpose to Investable Impact” yang berlangsung di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK), Kamis (22/10).
Lebih lanjut, Danang menjelaskan bahwa potensi ekonomi lokal harus melibatkan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari petani, nelayan, kreator, hingga inovator. Meski begitu, ia mengakui bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya terhubung satu sama lain . “Apabila mereka (pelaku usaha) masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terhubung (diskoneksi) satu sama lain, ini menjadi tantangan besar,” jelasnya. Maka dari itu, Danang menyimpulkan, perlu sebuah kolaborasi untuk antara pelaku usaha dengan investor guna memperkuat ekosistem kewirausahaan.
Sementara itu, Chairman Asosiasi Pengusaha Kreatif Jaya (APKJ), Ridha Perwira, menyoroti pentingnya ketahanan usaha dalam menghadapi perubahan yang berlangsung semakin cepat. Ia mencontohkan pengalaman melewati pandemi COVID-19 yang menunjukkan bahwa kolaborasi dalam ekosistem usaha berperan penting dalam membantu pelaku usaha bertahan. “Dari situ (pandemi COVID-19), kita memahami betapa pentingnya resilience atau ketahanan usaha. Kolaborasi dengan teman-teman dalam ekosistem sangat membantu kita bertahan menghadapi perubahan yang terus-menerus terjadi,” ungkapnya.
Menanggapi perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Ridha mengatakan bahwa dunia usaha harus beradaptasi dengan memanfaatkan teknologi dalam menjalankan sebuah usaha. Baginya, AI dapat memudahkan pengembangan situs web dan aplikasi melalui instruksi atau prompt, sehingga hambatan teknis yang sebelumnya dihadapi pelaku usaha semakin berkurang. “Dahulu, membangun startup teknologi membutuhkan keterampilan dan kemampuan pemrograman tertentu. Sekarang, lebih memungkinkan,” tuturnya.
Melalui acara Meet The Investor #3, Ray berharap ada sebuah kolaborasi antara investor dan pengusaha yang dapat memperkuat ekosistem kewirausahaan di Yogyakarta. Keterhubungan antar segenap pelaku usaha, akses terhadap investasi, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi bagian penting dalam mendorong pengembangan usaha yang memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat. “Kami berharap para peserta dapat berdiskusi secara langsung sehingga memperoleh perspektif baru untuk mengembangkan bisnis masing-masing,” tutupnya.
Penulis : Agito Sitepu
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Firsto
Artikel Kolaborasi dan Adaptasi Teknologi Jadi Kunci Ketahanan Usaha pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
Sumber: Universitas Gadjah Mada