Saatini Jogja AMP
Berita Jogja

Kolaborasi UGM dan Industri Hasilkan Inovasi Sensor Gempa Bawah Air

Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada bersama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui program Upstream Innovation, dan PT Elnusa Tbk. sukses melaksa...

Oleh Tim Saat Ini

Tim peneliti Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Gadjah Mada bersama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melalui program Upstream Innovation, dan PT Elnusa Tbk. sukses melaksanakan uji coba pengembangan sensor seismik bawah laut atau sensor gempa bawah air di Waduk Saguling, Jawa Barat, pada 28–29 September lalu. Teknologi yang dikembangkan dalam bentuk shallow water ocean bottom seismometer (OBS) tersebut diberi nama Prameya (Perangkat Rekam Aktivitas Mikroseismik dan Ekspedisi Yudha Akuatik), merupakan sensor getaran yang dirancang untuk ditempatkan di dasar perairan guna merekam aktivitas seismik, dengan target kemampuan operasi hingga kedalaman maksimum 100 meter.

Dosen FMIPA UGM sekaligus Ketua proyek pengembangan Prameya, Dr. Wiwit Suryanto, mengatakan bahwa pengembangan sensor bawah laut tersebut merupakan kelanjutan dari riset sensor gempa darat yang sebelumnya dikembangkan UGM melalui Gamadu. “Ini sebetulnya kelanjutan dari sensor yang dulu kita buat, Gamadu dulu. Itu sensor gempa, tapi di darat,” ujar Wiwit dalam wawancara, Jumat (2/10).

Pengembangan sensor tadi kemudian dilanjutkan ke lingkungan bawah air, mengingat Indonesia didominasi oleh wilayah perairan sehingga membutuhkan teknologi untuk memantau aktivitas seismik di laut. Wiwit menjelaskan, hingga saat ini Indonesia belum memiliki sensor gempa bawah laut yang dapat dipasang dan digunakan secara terus-menerus. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan tim melanjutkan pengembangan sensor hingga menghasilkan Prameya. “Kita belum punya sensor gempa bawah laut yang bisa dipasang terus-menerus. Jadi, kita mencoba mengembangkan sendiri supaya bisa memantau aktivitas gempa di bawah laut,” ungkapnya.

Uji coba pertama dipasang selama satu malam dengan tujuan menguji ketahanan dan kekedapan alat ketika berada di dalam air. Pengujian ini dilakukan pada kedalaman sekitar 30 meter, sementara kedalaman waduk dalam kondisi normal dapat mencapai sekitar 80 meter. Tahap tersebut dipilih sebagai pengujian awal sebelum perangkat dibawa ke lingkungan laut yang membutuhkan persiapan lebih kompleks.“Jadi itu kita pasang semalam untuk melihat kedepannya karena memang ternyata tidak mudah untuk membuat alat yang kedap di bawah laut,” kata Wiwit.

Menurutnya, kemampuan bertahan di dalam air menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan Prameya. Versi sebelumnya baru diuji hingga kedalaman sekitar 10 meter, sedangkan pada versi terbaru tim mulai mengujinya hingga 30 meter. Selain sistem kedap air, tim juga mengembangkan sistem buoy agar perangkat dapat ditenggelamkan dan nantinya diangkat kembali.

Hasil pengujian awal menunjukkan kinerja Prameya cukup baik ketika dibandingkan dengan alat standar. Meski demikian, masih terdapat satu komponen sensor horizontal yang perlu diperbaiki. Prameya memiliki tiga komponen sensor untuk merekam getaran, tetapi salah satunya masih menunjukkan kendala sehingga saat ini masih dalam proses penyempurnaan.“Waktu di darat sebenarnya hasilnya cukup baik dibandingkan dengan alat standar. Tapi memang masih ada sedikit masalah di komponen horizontal. Itu kan ada tiga komponen sensor yang kita pasang. Nah, yang satu komponennya masih bermasalah, tapi ini kita sedang perbaiki lagi,” ujar Wiwit.

Dari sisi teknologi, Prameya memiliki prinsip kerja yang hampir sama dengan OBS pada umumnya, yakni merekam getaran dari dasar perairan. Namun, tim UGM mengembangkan Prameya dengan spesifikasi yang lebih lengkap. Perangkat ini dilengkapi webcam dan lampu yang memungkinkan tim melihat posisi sensor ketika berada di dasar perairan, termasuk kondisi lingkungan di sekitar perangkat. “Sebetulnya secara prinsip hampir sama, cuma memang kemarin kami ingin yang spesifikasi lengkap. Jadi di situ ada webcam-nya, ada monitor kameranya untuk melihat posisi dari sensor itu di dalam air,” jelas Wiwit.

Kamera tersebut juga membantu tim mengetahui kondisi dasar perairan yang tidak selalu datar dan dapat dipenuhi lumpur. Dalam kondisi air keruh, jarak pandang kamera hanya sekitar 20–30 sentimeter, sedangkan pada air yang lebih jernih, posisi perangkat dapat terlihat lebih jauh. Keberadaan kamera dan lampu menjadi bagian dari upaya tim untuk membuat perangkat tidak hanya berfungsi merekam data seismik, tetapi juga memberikan informasi mengenai kondisi alat ketika berada di dasar perairan.

Wiwit mengatakan pengembangan dengan spesifikasi lengkap tersebut merupakan strategi tim untuk membangun kemampuan teknologi secara bertahap. Dengan mengembangkan perangkat pada spesifikasi yang lebih tinggi terlebih dahulu, teknologi tersebut nantinya dapat disederhanakan sesuai kebutuhan pengguna.“Kita yang cari yang paling spek tertinggi dulu. Kalau itu bisa, nanti spesifikasi yang lebih rendah kita pasti lebih bisa,” katanya.

Setelah pengujian di Waduk Saguling, Prameya akan memasuki tahap pengujian berikutnya di laut lepas pada November 2026. Pengujian direncanakan berlangsung di lapangan laut Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) dengan dukungan fasilitas dari Pertamina dan Elnusa. Tahap ini akan menjadi pengujian yang lebih kompleks karena perangkat harus diturunkan dari kapal dan memiliki bobot sekitar 70 kilogram sehingga membutuhkan crane. “November itu di Pertamina Hulu Kalimantan Timur, PHKT. Jadi mereka punya lapangan di laut. Nah, kita dengan fasilitas dari Pertamina dan Elnusa,” ujar Wiwit.

Dalam skema pengembangan tersebut, Pertamina berperan sebagai pihak yang membiayai riset di FMIPA UGM. Setelah teknologi dikembangkan menjadi produk, Elnusa akan mengambil peran dalam pengoperasian dan hilirisasi perangkat. Pengujian di laut diharapkan menjadi langkah penting untuk melihat kesiapan Prameya sebelum digunakan untuk kebutuhan yang lebih luas.

Prameya sendiri tidak hanya ditujukan untuk pemantauan gempa bawah laut. Karena pada dasarnya merupakan sensor getaran, perangkat tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari eksplorasi minyak dan gas bumi serta panas bumi, mitigasi bencana, pemantauan aktivitas gunung api bawah laut, hingga deteksi aktivitas kapal. “Inovasi ini  bisa menjadi salah satu alat untuk monitoring gunung api bawah laut. Tapi untuk kebutuhan eksplorasi juga digunakan juga. Ini sensor sebenarnya sensor getar, jadi aplikasinya macam-macam. Bisa untuk eksplorasi, bisa untuk mitigasi bencana, untuk monitoring gempa. Monitoring kapal pun bisa, ada aktivitas kapal itu kelihatan,” jelas Wiwit.

Wiwit berharap Prameya dapat digunakan untuk mendukung kegiatan eksplorasi oleh perusahaan di Indonesia maupun luar negeri. Selain itu, perangkat ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh BMKG untuk memantau aktivitas gempa di wilayah laut dalam yang hingga kini masih belum banyak terpantau. “Kalau ini nanti berhasil, bisa dimanfaatkan untuk support eksplorasi di perusahaan eksplorasi di Indonesia, baik dalam maupun luar negeri. Termasuk, kami juga ingin agar nanti BMKG memanfaatkannya untuk monitoring gempa di bawah laut. Karena laut-laut dalam kita belum dieksplorasi itu, sementara sebetulnya potensinya sangat besar,” pungkas Wiwit.

Penulis : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Dok. Tim Peneliti

Artikel Kolaborasi UGM dan Industri Hasilkan Inovasi Sensor Gempa Bawah Air pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

Sumber: Universitas Gadjah Mada