Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan, upaya pelestarian bahasa daerah kini memasuki babak baru. Bukan lagi sekadar mendokumentasikan kata dan ungkapan, tetapi memban...
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perkembangan kecerdasan buatan, upaya pelestarian bahasa daerah kini memasuki babak baru. Bukan lagi sekadar mendokumentasikan kata dan ungkapan, tetapi membangun fondasi data yang dapat menjadi sumber pengetahuan, penelitian, hingga teknologi bahasa masa depan. Semangat itulah yang mengemuka dalam kegiatan Sosialisasi Rancangan dan Evaluasi Pengembangan Korpus Bahasa Jawa yang diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di Hotel New Saphir, Yogyakarta, pada 4–5 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut memperkenalkan Catatan Korpus Raya Jawa atau CAKRA, sebuah platform yang dirancang sebagai pusat korpus digital bahasa Jawa yang terintegrasi, berkelanjutan, dan adaptif. Gagasan ini lahir dari kesadaran bahwa data kebahasaan Jawa selama ini masih tersebar di berbagai media, belum memiliki standar metadata yang seragam, serta belum siap dimanfaatkan secara optimal untuk pengembangan teknologi modern.
Dalam paparannya, Nur Ramadhoni Setyaningsih menjelaskan bahwa CAKRA bukan sekadar aplikasi, melainkan sebuah ekosistem yang menghimpun berbagai sumber data bahasa Jawa, mulai dari teks sastra, media massa, karya akademik, dokumen resmi, media digital, hingga manuskrip lama. Semua data tersebut akan dikelola agar dapat dianalisis dan dimanfaatkan secara lebih luas.
Nama CAKRA dipilih bukan tanpa alasan. Dalam filosofi Jawa, cakra dimaknai sebagai roda yang terus berputar, simbol kekuatan, kesinambungan, dan penggerak kehidupan. Filosofi itu diterjemahkan ke dalam lima gerak utama, yakni mengumpulkan, menata dan mengesahkan, menganalisis, menghubungkan, serta mengembangkan. Melalui siklus tersebut, data bahasa tidak berhenti menjadi arsip, tetapi terus hidup dan berkembang menjadi pengetahuan baru.
Saat ini, tim pengembang telah berhasil menghimpun sekitar 4 juta token data bahasa Jawa. Jumlah tersebut mendapat apresiasi dari kalangan akademisi yang hadir. Dr. Venny Indria Ekowati dari Universitas Negeri Yogyakarta menyebut capaian itu sebagai kerja besar yang patut diapresiasi. Menurutnya, fokus utama saat ini adalah terus memperkaya jumlah data yang tersedia.
“Kejarlah token sebanyak-banyaknya terlebih dahulu,” demikian salah satu masukan yang mengemuka dalam diskusi. Berbagai sumber potensial pun disebutkan, mulai dari koleksi sastra digital, skripsi berbahasa Jawa, hasil lomba berbahasa Jawa, hingga data lisan dari pertunjukan wayang dan konten audiovisual lainnya.
Antusiasme serupa datang dari Dr. Sulistyowati dari Universitas Gadjah Mada. Ia melihat CAKRA sebagai terobosan penting yang dapat menjembatani kebutuhan mahasiswa, peneliti, dan para pemerhati bahasa Jawa. Selama ini, akses terhadap data bahasa Jawa dinilai masih terbatas dan tersebar di berbagai tempat. Kehadiran platform yang mudah digunakan akan membuka peluang besar bagi pengembangan kajian bahasa Jawa berbasis data.
Namun, jalan menuju pusat data bahasa Jawa yang ideal tentu tidak tanpa tantangan. Tim pengembang masih harus berhadapan dengan persoalan kualitas data, variasi ejaan, keterbatasan sumber daya manusia, hak cipta, hingga kebutuhan infrastruktur yang memadai. Beberapa peserta juga menyoroti perlunya standar penulisan, legalitas penggunaan data, serta mekanisme ethical clearance agar para pemilik dokumen merasa aman ketika karyanya dimanfaatkan dalam korpus.
Di balik diskusi teknis tersebut, tersimpan kisah kerja panjang yang dijalani para pengelola dan pembantu lapangan. Salah seorang mahasiswa yang terlibat dalam proyek ini mengungkapkan tantangan saat mengonversi ratusan halaman dokumen dari gambar menjadi teks digital. Proses pemindaian, pengubahan format, hingga penyuntingan data membutuhkan waktu dan ketelitian yang tinggi. Meski melelahkan, pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya besar membangun fondasi digital bahasa Jawa.
Melalui CAKRA, Balai Bahasa Provinsi DIY membayangkan masa depan ketika korpus bahasa Jawa tidak hanya menjadi repositori data, tetapi juga fondasi bagi kamus digital, pengayaan kosakata, penelitian kebahasaan, pengembangan teknologi bahasa, hingga kecerdasan buatan. Dalam peta jalan 5 tahun yang dipaparkan, platform ini bahkan diarahkan menuju pengembangan semantic search, chatbot, dan layanan berbasis kecerdasan buatan atau AI.
Yang tidak kalah penting, CAKRA dirancang sebagai hasil kerja bersama. Kolaborasi dengan perguruan tinggi, pemerintah daerah, lembaga arsip, komunitas bahasa Jawa, media massa, hingga pengembang teknologi menjadi kunci keberhasilannya. Sebab, sebagaimana ditegaskan dalam forum tersebut, korpus bahasa Jawa tidak dapat dibangun oleh satu institusi saja. Ia membutuhkan gotong royong banyak pihak.
Pada akhirnya, CAKRA bukan hanya soal teknologi atau kumpulan data. Ia adalah ikhtiar untuk memastikan bahasa Jawa tetap hidup dan relevan di era digital. Dari jutaan token yang dikumpulkan satu per satu, tersusun harapan agar bahasa warisan leluhur dapat terus berkembang, dipelajari, dan dimanfaatkan oleh generasi mendatang.
Sebagaimana roda yang menjadi makna namanya, CAKRA diharapkan terus berputar, menggerakkan pelestarian bahasa Jawa dari masa kini menuju masa depan.
Sumber: Balai Bahasa Provinsi DIY