Saatini Jogja AMP
Berita Jogja

Nasionalisme dan Internasionalisme dalam Sastra Bandingan

Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026 kembali menghadirkan siniar rutin yang membahas bahasa, sastra, dan kekayaan budaya. Episode kali ini bertajuk “Nasionalism...

Oleh Tim Saat Ini

Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada Kamis, 29 Oktober 2026 kembali menghadirkan siniar rutin yang membahas bahasa, sastra, dan kekayaan budaya. Episode kali ini bertajuk “Nasionalisme dan Internasionalisme dalam Sastra Bandingan” dan tayang di kanal YouTube Balai Bahasa DIY. Pemandu acara, Niha Khoirunnisa, berbincang dengan Dr. Muhammad Arif Rokhman, pakar sastra bandingan sekaligus pendiri Forum Sastra Banding Yogyakarta. Dalam perbincangan tersebut terdapat beberapa hal yang disampaikan.

Membandingkan Karya dan Ilmu

Pada awal perbincangan, Arif menjelaskan bahwa sastra bandingan memiliki dua komponen. Komponen pertama adalah membandingkan karya sastra, baik antarnegara maupun antarkarya. Komponen kedua adalah kajian sastra interdisipliner, yakni menghadirkan pembicara dari disiplin ilmu lain untuk menelaah karya sastra dengan sudut pandang keilmuannya.

Menurut Arif, pendekatan itu membuat sastra tidak lagi dipandang sebagai kajian yang hanya dimiliki orang-orang sastra. “Semua disiplin dapat masuk dan berbicara tentang sastra,” ujarnya.

Memahami Keragaman Bangsa

Dalam kaitannya dengan nasionalisme, Arif menyoroti kecenderungan kajian sastra Indonesia yang bertumpu pada teori Barat. Menurutnya, teori tersebut tidak selalu mampu menjangkau seluruh unsur dalam karya sastra Indonesia. Ia mencontohkan novel yang tokohnya menyelesaikan persoalan hidup tanpa melibatkan nilai ketuhanan. Karya semacam itu tidak dapat dibaca secara utuh jika hanya memakai sudut pandang sekuler Barat, padahal bangsa Indonesia memiliki Pancasila yang sila pertamanya berbunyi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Arif juga menekankan pentingnya perbandingan antarsastra daerah, misalnya sastra Jawa dengan sastra Sunda, Sumatra, atau Ambon. Perbandingan itu dinilai dapat menumbuhkan toleransi dan memperkuat semangat Bineka Tunggal Ika. Apabila dikenalkan sejak sekolah dasar, anak-anak akan terbiasa memahami perbedaan dan tidak menjadikan daerahnya sebagai satu-satunya ukuran. “Nasionalisme itu harus memahami keragaman melalui karya sastra,” tuturnya.

Sastra Indonesia sebagai Warga Dunia

Pada bagian internasionalisme, Arif berpendapat bahwa pembelajaran sastra daerah dan sastra Indonesia tidak boleh berhenti pada batas negara. Kurikulum perlu membuka wawasan peserta didik terhadap sastra dari Barat, Tiongkok, Afrika, hingga Amerika. Berbeda dengan media sosial yang serba singkat, sastra menuntut pendalaman dan refleksi sehingga dapat menumbuhkan kesadaran akan dunia lain sejak dini.

Ia juga mengingatkan bahwa mempelajari satu sastra asing, seperti sastra Inggris, belum cukup untuk disebut berwawasan internasional. “Kalau ingin menjadi warga dunia, sastra Indonesia harus punya teman, yaitu perbandingan,” katanya. Arif berharap gagasan tersebut masuk dalam kurikulum program sarjana dan dikembangkan lebih jauh pada program magister.

Praktik di Ruang Kelas

Arif mengungkapkan bahwa ia telah mempraktikkan gagasan itu di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Dalam kelas sastra bandingan, mahasiswa dari berbagai program studi, seperti sastra Indonesia, Jawa, Jepang, Korea, dan Arab, mengkaji tema yang sama, misalnya etika anak terhadap orang tua. Mahasiswa sastra Indonesia membandingkan karyanya dengan karya negara lain, sedangkan mahasiswa sastra asing diajak memahami sastra Indonesia dan budayanya sendiri.

Meskipun kelas tersebut masih bersifat eksperimen dan memerlukan prosedur yang jelas, Arif menegaskan bahwa arah akhir sastra bandingan adalah kemanusiaan.

Sumber: Balai Bahasa Provinsi DIY