Oase Malioboro dijadwalkan dibuka untuk umum pada minggu pertama November 2026 sebagai destinasi wisata baru di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta. Destinasi ini menawarkan pengalaman seni imersif yang memadukan pertunjukan budaya lokal dengan teknologi visual futuristik di tengah suasana taman. Selain itu, Oase Malioboro juga menyediakan ruang kolaborasi bagi seniman dan pelaku industri kreatif untuk menampilkan karya serta mengikuti berbagai aktivitas kreatif.
YOGYAKARTA, Saatini.com — Kota Yogyakarta bakal memiliki destinasi wisata budaya dan kreativitas baru melalui kehadiran Oase Malioboro. Taman wisata ini dijadwalkan mulai menerima pengunjung secara umum pada minggu pertama November 2026 dengan menawarkan pengalaman seni yang memadukan budaya lokal, visual imersif, dan suasana alami.
Oase Malioboro hadir sebagai ruang bagi para seniman untuk menampilkan karya sekaligus mempertemukan masyarakat dengan beragam bentuk kesenian. Berlokasi di kawasan Sumbu Filosofi Yogyakarta, destinasi ini menggabungkan pertunjukan budaya khas Jogja dengan teknologi visual futuristik di tengah taman dan pepohonan artistik.
Kreatif Konsultan dan Bisnis Developer Oase Malioboro, Yudha KN, menjelaskan bahwa destinasi tersebut mengusung konsep kolaborasi terbuka bagi pelaku industri kreatif. Seniman maupun masyarakat yang memiliki produk dan karya kreatif berkesempatan untuk bekerja sama dan menampilkan karyanya di tempat tersebut.
“Konsepnya kita kolaborasi, kolaborasi dengan para seniman, siapapun yang punya produk industri kreatif atau apapun dengan karya-karya kreatifnya, silakan berkolaborasi dengan Oase, kami terbuka,” kata Yudha setelah peluncuran Oase Malioboro di Yogyakarta, Minggu.
Oase Malioboro menawarkan pendekatan wisata yang tidak hanya mengandalkan keindahan tempat, tetapi juga pengalaman seni dan budaya. Pengunjung nantinya dapat menikmati pertunjukan seni, menjelajahi instalasi visual, serta mengikuti berbagai aktivitas kreatif dalam satu kawasan.
Konsep tersebut memadukan kekayaan budaya Yogyakarta dengan pendekatan visual yang lebih modern. Pengelola ingin menghadirkan suasana yang menarik bagi pengunjung tanpa menghilangkan karakter lokal yang menjadi identitas kota tersebut.
Yudha menjelaskan bahwa nama Oase mencerminkan harapan agar tempat ini menjadi ruang yang memberikan kesejukan bagi masyarakat. Konsep alam atau nature menjadi salah satu unsur utama dalam pengembangan taman wisata tersebut.
“Oase itu wadah yang menyejukkan, maka kami konsepnya nature (alami) gitu. Jadi setiap orang kalau di Yogyakarta, rasanya panas, tapi di dalam Oase, karena kita dekat dengan lingkungan pariwisata, semoga bisa menyejukkan hatinya mereka semua,” katanya.
Melalui perpaduan taman, pepohonan artistik, pertunjukan, dan visual imersif, Oase Malioboro ingin memberikan suasana berbeda di tengah kawasan pariwisata Yogyakarta. Pengelola juga berharap tempat ini dapat menjadi ruang untuk menikmati seni sekaligus memperoleh pengalaman budaya yang menyenangkan.
Oase Malioboro tidak hanya menargetkan pengunjung yang ingin menyaksikan pertunjukan seni. Destinasi ini juga menyiapkan beragam kegiatan edukatif agar masyarakat dapat terlibat langsung dalam proses mengenal dan menciptakan karya budaya.
Sejumlah aktivitas yang akan hadir antara lain workshop kriya, pembuatan karya kreatif, serta kegiatan mempelajari budaya Yogyakarta. Pengunjung juga dapat mengenal seni membatik dan budaya unggah-ungguh, yakni tata krama atau sopan santun yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Pengelola ingin menyampaikan materi budaya dengan cara yang lebih mudah dipahami dan menyenangkan. Pendekatan ini diharapkan membuat pengalaman belajar seni terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Kami mengonsepnya dengan cara yang lebih menarik, mudah dan fun. Kami sempat riset di masyarakat kalau mereka mau melakukan kegiatan kesenian itu panggung mereka dimana? Nah di sini kami buka diri untuk warga Yogyakarta untuk kolaborasi,” ujar Yudha.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, Oase Malioboro berupaya membuka ruang agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat terlibat dalam aktivitas kreatif. Dengan demikian, wisata budaya dapat menjadi pengalaman yang menggabungkan hiburan, pembelajaran, dan partisipasi pengunjung.
Salah satu elemen yang akan menarik perhatian pengunjung di Oase Malioboro adalah patung bernama Rupa Jiwa. Karya ini mengambil inspirasi dari keberagaman seniman Yogyakarta yang berkarya dalam berbagai bidang, mulai dari seni rupa hingga film dan teater.
Nama Rupa Jiwa menggambarkan keragaman bentuk ekspresi seni yang tumbuh di Yogyakarta, sekaligus menyoroti semangat yang menyatukan para senimannya. Melalui karya tersebut, pengelola ingin mengangkat kembali identitas Yogyakarta sebagai kota yang memiliki kekayaan seni dan budaya.
Yudha mengatakan bahwa keberagaman ekspresi seni tetap memiliki akar budaya yang sama. Karena itu, Oase Malioboro ingin menghadirkan semangat kejayaan seni Yogyakarta melalui pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai lokal.
“Tapi balik lagi, satu jiwanya di mana? Kami mengembalikan kejayaan masa lalu, ketika karya seni Jogja (Yogyakarta) dikenal seninya, itu yang kami kembalikan. Tapi, dengan tidak meninggalkan budaya kelokalannya,” katanya.
Konsep tersebut menempatkan budaya lokal sebagai fondasi utama pengembangan Oase Malioboro. Sementara itu, pendekatan visual dan kolaborasi lintas bidang menjadi cara untuk memperkenalkan kekayaan seni Yogyakarta kepada pengunjung melalui pengalaman yang lebih menarik.
Oase Malioboro menyiapkan program pertunjukan yang melibatkan setidaknya 10 seniman setiap hari setelah destinasi ini dibuka untuk umum. Para seniman tersebut akan melalui proses kurasi sebelum berkolaborasi menampilkan karya mereka.
Program harian itu akan mencakup beragam bentuk ekspresi, termasuk seni rupa, pertunjukan visual, dan teater. Kehadiran para seniman dari berbagai bidang diharapkan menciptakan pengalaman yang beragam bagi pengunjung.
Rencana tersebut sekaligus membuka peluang bagi seniman lokal untuk memperkenalkan karya kepada masyarakat dalam ruang yang dirancang khusus untuk kegiatan kreatif. Oase Malioboro ingin menjadi tempat pertemuan antara pelaku seni, industri kreatif, dan pengunjung yang ingin mengenal budaya Yogyakarta.
Dengan melibatkan sedikitnya 10 seniman setiap hari, pengelola juga menempatkan aktivitas seni sebagai bagian penting dari pengalaman wisata. Program kolaborasi ini sejalan dengan tujuan Oase Malioboro untuk memberikan ruang ekspresi yang terbuka bagi para kreator.
Rencana pembukaan Oase Malioboro pada minggu pertama November 2026 menambah pilihan destinasi bagi masyarakat yang ingin menikmati wisata budaya di Yogyakarta. Lokasinya di kawasan Sumbu Filosofi juga menempatkan taman wisata ini dalam lingkungan pariwisata kota yang memiliki karakter budaya kuat.
Berbeda dari tempat wisata yang hanya menawarkan aktivitas melihat-lihat, Oase Malioboro menggabungkan pertunjukan, pengalaman visual, dan kegiatan praktik seni. Pengunjung dapat menikmati karya seniman sekaligus mengikuti aktivitas yang mengenalkan keterampilan dan tradisi lokal.
Pengelola juga membuka kesempatan bagi pelaku industri kreatif untuk menjalin kolaborasi. Dengan pendekatan tersebut, Oase Malioboro tidak hanya dirancang sebagai destinasi kunjungan, tetapi juga sebagai wadah pengembangan karya dan interaksi antarpelaku seni.
Melalui perpaduan alam, teknologi visual, dan budaya lokal, Oase Malioboro ingin menghadirkan pengalaman wisata yang edukatif sekaligus menghibur. Kehadiran ruang kolaborasi ini diharapkan dapat mendukung keberlanjutan aktivitas seni dan kreativitas di Yogyakarta. (*)