Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Curcuwin meneliti potensi kombinasi kurkumin dan ekstrak kayu manis untuk mengkaji perad...
Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) Curcuwin meneliti potensi kombinasi kurkumin dan ekstrak kayu manis untuk mengkaji peradangan dan resistensi insulin pada sindrom ovarium polikistik atau Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Penelitian ini dilakukan melalui pengujian pada tikus model PCOS dan analisis interaksi senyawa dengan protein target untuk mempelajari mekanisme yang berkaitan dengan kondisi tersebut.
Tim Curcuwin terdiri atas Apriani Nurjanah, Nadhifah Eka Prastuti, dan Arline Ermanissa Rezkyanti dari Fakultas Kedokteran Hewan, Naafi’ Noor Nafiza Novikh dari Fakultas Farmasi, serta Annisa Fajra Humaira dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan UGM. Penelitian ini dibimbing oleh Dr. drh. Vista Budiariati, M.Si.
PCOS merupakan kondisi yang berkaitan dengan gangguan hormon, siklus ovulasi, metabolisme, dan peradangan. Kondisi ini juga berhubungan dengan resistensi insulin, yaitu keadaan ketika tubuh kurang merespons insulin sehingga pengaturan kadar gula darah dapat terganggu. Kompleksitas tersebut mendorong tim Curcuwin untuk mengkaji dua aspek sekaligus, yakni peradangan dan resistensi insulin.
Kurkumin merupakan senyawa aktif yang terdapat dalam kunyit (Curcuma longa) dan memiliki potensi sebagai antioksidan serta antiinflamasi. Sementara itu, kayu manis (Cinnamomum burmannii) mengandung senyawa seperti sinamaldehida (cinnamaldehyde) dan polifenol yang berpotensi berkaitan dengan sensitivitas insulin. Melalui kombinasi keduanya, tim ingin mengkaji pengaruh pemberian masing-masing bahan dan kombinasinya terhadap sejumlah parameter yang berkaitan dengan PCOS.
Penelitian berlangsung selama kurang lebih empat bulan di sejumlah laboratorium UGM. Tahap awal meliputi pengumpulan dan identifikasi kulit batang kayu manis untuk memastikan identitas tanaman yang digunakan. Setelah itu, tim mengekstraksi bahan menggunakan metode Ultrasonic-Assisted Extraction (UAE), yakni teknik ekstraksi yang memanfaatkan gelombang ultrasonik untuk membantu proses pengambilan senyawa dari bahan tanaman.
Tahap selanjutnya adalah pembentukan tikus model PCOS melalui pemberian letrozole selama 21 hari. Setelah itu, tikus dibagi ke dalam lima kelompok perlakuan, yaitu kelompok kontrol sehat, kontrol negatif, kelompok pemberian kurkumin, kelompok pemberian ekstrak kayu manis, serta kelompok pemberian kombinasi kurkumin dan ekstrak kayu manis.
Anggota tim, Nadhifah Eka Prastuti, menjelaskan bahwa pembagian kelompok tersebut bertujuan untuk mengamati perbedaan parameter penelitian berdasarkan perlakuan yang diberikan.“Induksi letrozole dilakukan selama 21 hari untuk menghasilkan tikus model PCOS. Setelah itu, tikus diberikan perlakuan sesuai dengan kelompok yang telah ditentukan,” jelas Nadhifah.
Tim kemudian mengamati sejumlah parameter yang berkaitan dengan metabolisme, reproduksi, dan peradangan. Pengamatan meliputi kadar glukosa darah, ekspresi insulin pada jaringan pankreas, perubahan siklus estrus atau siklus reproduksi tikus betina, serta kondisi jaringan ovarium untuk mengamati perkembangan folikel. Tim juga memeriksa ekspresi Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α), yaitu salah satu penanda yang berkaitan dengan proses peradangan, pada jaringan ovarium.
Anggota tim, Arline Ermanissa Rezkyanti, menyampaikan bahwa pengamatan berbagai parameter tersebut membantu tim mengkaji kombinasi bahan dari beberapa aspek yang berkaitan dengan PCOS.“Pengujian dilakukan untuk melihat parameter yang berkaitan dengan metabolisme, inflamasi, dan reproduksi pada model PCOS. Dengan pendekatan tersebut, kami dapat mengkaji potensi kombinasi kurkumin dan ekstrak kayu manis secara lebih menyeluruh,” ujarnya.
Penelitian tersebut telah selesai dilaksanakan. Saat ini, Tim Curcuwin mempersiapkan hasil penelitian untuk dipresentasikan dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 di Universitas Diponegoro.
Penelitian Tim Curcuwin juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), terutama SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui pengembangan pengetahuan di bidang kesehatan, serta SDG 9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur melalui kegiatan riset dan pengembangan berbasis teknologi. Eksplorasi kayu manis sebagai sumber bahan penelitian turut berkaitan dengan SDG 15 tentang Ekosistem Daratan, khususnya dalam pengembangan pengetahuan mengenai potensi sumber daya hayati.
Penulis : Adinda Putri Rahma
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Magnific dan Tim PKM
Artikel Riset Mahasiswa UGM Ungkap Potensi Kurkumin dan Kayu Manis Atasi Ketidakseimbangan Hormon Wanita pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
Sumber: Universitas Gadjah Mada