Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan acara bertajuk “Membahanakan Bahasa dan Sastra di Titik Nol” pada Sabtu, 24 Oktober 2026 di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Kegi...
Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan acara bertajuk “Membahanakan Bahasa dan Sastra di Titik Nol” pada Sabtu, 24 Oktober 2026 di Titik Nol Kilometer Yogyakarta. Kegiatan yang berlangsung pukul 17.00–21.00 WIB ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Acara tersebut merupakan bagian dari peringatan Bulan Bahasa dan Sastra 2026.
Berbagai seniman, pegiat komunitas, dan perwakilan lembaga pendidikan turut memeriahkan acara. Kegiatan dibuka pada pukul 16.25 WIB oleh dua pembawa acara dari Duta Bahasa DIY, yaitu Gayuh dan Krisna. Selanjutnya, Ratun Untoro selaku Plt. Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY menyampaikan sambutan sekaligus membacakan puisi.
Penampilan pertama disuguhkan oleh lima siswa SD Muhammadiyah Sapen yang melantunkan tembang macapat Gambuh, Pemut, dan Maskumambang. Berikutnya, dua geguritan dibacakan, yakni “Tawon” karya Dhinar Winasti Sumiatsih dan “Jedhing Resik” karya Kingkin Winanti Nurdiana.
Tiga penampil dari Dinas Kebudayaan Yogyakarta kemudian membawakan tembang macapat Kinanti dan Megatruh. Setelah itu, Rumah Sastra Evi Idawati membacakan puisi “Kupu-Kupu Musim” karya Iman Budhi Santosa. Rangkaian penampilan dilanjutkan dengan pembacaan geguritan “Limang Tahun” oleh Sunarjo dari SD Muhammadiyah Karanglojen.
Di sela-sela rangkaian penampilan, panitia menyelenggarakan kegiatan Suara dari Titik Nol. Pengunjung diajak menuliskan kata-kata pada papan berbalut kain putih yang telah disediakan. Ratun Untoro mengawali kegiatan tersebut dengan menuliskan kalimat “Ekspresikan hati dan air matamu”.
Warga yang melintas tampak antusias berpartisipasi. Mereka memenuhi papan tersebut dengan puisi, pantun, dan tulisan lain yang berkaitan dengan bahasa dan sastra. Bahkan, hingga rangkaian penampilan berakhir, masih banyak pengunjung yang turut menuliskan kata-kata di papan itu.
Rangkaian pertunjukan berlanjut dengan penampilan delapan anggota Rumah Sastra Evi Idawati (Sekolah Puisi Yogyakarta). Berikutnya, Fabriesha Gempar dari Sega Jabung membawakan karya berjudul “Siapa yang Membawa Korek?”, disusul Syafaat Noor Rahman dari Gebyar Seni Semesta dengan karya “Tumbal Laga dan Jelaga”. Setelah itu, Wulan Santi Ayu Prajna tampil membacakan puisi.
Sinarendra Krisna mewakili Rontjing Aksara dengan membacakan geguritan. Selanjutnya, Arel dari SDIT Baitussalam Prambanan membacakan cerkak (cerita cekak) berjudul “Wedhus Kendhit”. Penampilan berikutnya berupa pembacaan puisi berbahasa Banyumasan berjudul “Ora Ngapak Ora Kepenak” oleh Khalid Alwi dari Swastika Aksara Nusantara. Masih dari komunitas yang sama, Wahyu Tigar P. menyuguhkan musikalisasi puisi “Nyong dan Kaya Kuwelah”.
Sidharta Sukadi dari Sanggar Yashangkara kemudian membawakan karya berjudul “Sontoloyo”. Penampilan berikutnya adalah pembacaan puisi “Gegojegan Madyaning Ratri” oleh Firnanda Wakhid Nurahim dari Sega Jabung. Selanjutnya, Singgih Indarta membacakan “Orek-Orekan” (coretan) dan puisi berjudul “Hah”.
Ardi Susanti dari Tulungagung tampil berkolaborasi dengan Wahyu Tigar, dengan iringan lagu “Indonesia Pusaka”. Pada penampilan berikutnya, Novi Eko Runtoro dari Sega Jabung menyuguhkan pertunjukan puisi dengan cara yang unik. Ia menantang anaknya untuk menulis puisi, kemudian membacakan puisi yang telah ditulis tersebut.
Sumaryono dari Griya Jawaksara tampil bersama putranya, Shankaradipta Hastu Aryasuta. Keduanya membawakan macapat dan geguritan berjudul “Saka Ngayogja Malembar mring Nagara”. Setelah itu, Maryanto dari Jarak Jawa membacakan puisi.
Rumah Sastra Evi Idawati kembali tampil dengan melibatkan penonton. Mereka mengajak penonton membacakan puisi “Aku” karya Chairil Anwar secara bersama-sama. Penampilan tersebut dilanjutkan dengan pertunjukan pantomim oleh Reza dari komunitas yang sama.
Berikutnya, Slamet Nugroho dari MGMP Bahasa Jawa SMA DIY membacakan puisi “Ojo Melu Edan”. Priyo Sudarso kemudian menyuguhkan pembacaan geguritan. Sebagai penutup rangkaian acara Malam Bulan Bahasa dan Sastra, Agisna Indah Mawarni dari Ikatan Duta Bahasa DIY menampilkan permainan biola.
Sumber: Balai Bahasa Provinsi DIY