Saatini Jogja AMP
Berita Jogja

UGM Dorong Hilirisasi Kolaboratif Wujudkan Kampus Berdampak

Universitas Gadjah Mada mendorong pengembangan universitas ke arah hilirisasi melalui ekosistem kolaborasi dan menghasilkan dampak berkelanjutan. Oleh karena itu, kebijakan pengembangan universitas di...

Oleh Tim Saat Ini

Universitas Gadjah Mada mendorong pengembangan universitas ke arah hilirisasi melalui ekosistem kolaborasi dan menghasilkan dampak berkelanjutan. Oleh karena itu, kebijakan pengembangan universitas diarahkan pada potensi pemanfaatan hasil tridharma secara lebih luas sekaligus memberikan manfaat dan menjawab kebutuhan masyarakat dan industri.  Hal itu disampaikan Rektor UGM Prof. dr. Ova Emilia, MPh.D., saat membuka Rapat Kerja Universitas (RKU) UGM dengan agenda Pembahasan Usulan Rencana Kerja dan Anggaran Tahunan (RKAT) Tahun 2027 di Balai Senat UGM, Senin (5/10). 

Dikatakan Rektor, semangat kampus berdampak yang kini menjadi bagian penting dalam pengembangan perguruan tinggi. Karena itu, hilirisasi perlu dipandang sebagai proses yang melibatkan berbagai pihak dan dibangun melalui ekosistem yang saling mendukung. “Di 2027 kita ingin menguatkan hilirisasi melalui ekosistem kolaborasi dan dampak berkelanjutan,” ujar Ova.

Hilirisasi yang dimaksud juga memiliki cakupan yang luas. Dampak dari tridharma dapat hadir melalui penciptaan pengetahuan, inovasi, kolaborasi, dan literasi, dengan hasil yang dapat berupa teknologi, produk, model, kebijakan, inovasi sosial, maupun talenta. Dalam pendidikan, misalnya, dampak dapat dilihat dari kesiapan lulusan memasuki dunia kerja. Ova menyebut masa tunggu lulusan UGM untuk memperoleh pekerjaan saat ini sekitar 2,6 bulan.

Dari sisi riset dan inovasi, UGM terus membangun ekosistem yang mendukung perjalanan hasil penelitian dari tahap awal hingga dapat dimanfaatkan lebih luas. Penguatan tersebut mencakup manajemen laboratorium terpadu, pembaruan instrumen penelitian, UGM Science Techno Park, serta penguatan peran Intellectual Property Management Office (IPMO) dalam pengelolaan kekayaan intelektual. Pengembangan teknologi juga diarahkan berdasarkan tingkat kesiapan teknologi atau Technology Readiness Level (TRL), mulai dari TRL 1 hingga TRL 9, sesuai dengan tingkat kematangan hasil yang dikembangkan. Pada tahap yang semakin matang, hasil penelitian diharapkan dapat bergerak menuju pemanfaatan yang lebih luas hingga industrialisasi produk.

Ekosistem tersebut dibangun agar proses hilirisasi tidak menjadi tanggung jawab peneliti seorang diri. Dukungan terhadap infrastruktur riset, pengelolaan kekayaan intelektual, dan peran unit-unit pendukung diperlukan agar hasil penelitian dapat bergerak lebih jauh dari tahap pengembangan. Dengan sistem yang terintegrasi, peneliti dapat memperoleh dukungan ketika hasil riset mulai diarahkan pada pemanfaatan dan pengembangan lebih lanjut. Ova menilai pola kerja semacam ini penting untuk memperkuat hilirisasi di lingkungan UGM. “Jangan sampai misalnya peneliti-peneliti kita itu yang fighting sendiri-sendiri. Nah, ekosistem ini yang harus kita perkuat,” tegasnya.

Semangat menghasilkan dampak juga diterapkan dalam pengembangan pendidikan. UGM terus mendorong kurikulum transdisiplin, literasi bahasa, pengalaman belajar nasional dan global, pendidikan inklusif, serta perluasan akses pembelajaran melalui UGM Online. Melalui pembelajaran daring, masyarakat yang belum dapat mengakses pendidikan di UGM tetap dapat memperoleh pengetahuan dari modul yang dikembangkan sivitas akademika. Bentuk pemanfaatan pengetahuan tersebut dapat dilakukan melalui transfer pengetahuan, aktivitas berbasis manusia, pemecahan masalah, maupun kegiatan berbasis komunitas. “Orang-orang yang tidak mampu untuk masuk ke UGM dapat menikmati modul-modul yang dikreasikan oleh Ibu dan Bapak semuanya,” kata Ova.

Selanjutnya, arah hilirisasi dan dampak berkelanjutan tersebut menjadi bagian yang perlu diterjemahkan dalam rencana kerja masing-masing fakultas dan unit kerja. Penyusunan RKAT diharapkan tetap selaras dengan tujuan strategis universitas, namun tetap memberi ruang bagi setiap unit untuk mengembangkan program sesuai kebutuhan dan potensinya. Ova juga mengingatkan agar perencanaan tidak berhenti pada pengulangan program sebelumnya, melainkan menghasilkan target dan indikator yang menunjukkan perubahan yang ingin dicapai. RKU selama dua hari menjadi ruang untuk membahas, menyelaraskan, dan menyempurnakan usulan program sebelum diterapkan dalam rencana kerja UGM 2027. “Saya kira itu yang bisa saya sampaikan, Ibu dan Bapak, dan semoga acara dua hari ini dapat berjalan dengan lancar dan mendapatkan yang terbaik dari kita semua,” pungkasnya.

Sekedar informasi, RKU RKAT 2007 diikuti para Dekan, Direktur, dan jajaran Pimpinan unit kerja di lingkungan UGM. Fokus tersebut melanjutkan arah pengembangan yang telah dibangun pada tahun-tahun sebelumnya, mulai dari penguatan kolaborasi pada 2025 hingga penguatan kapabilitas, inovasi, dan dampak berkelanjutan pada 2026. Melalui RKU, arah tersebut akan diterjemahkan ke dalam rencana kerja dan anggaran universitas untuk 2027.

Penulis: Triya Andriyani

Foto: Firsto

Artikel UGM Dorong Hilirisasi Kolaboratif Wujudkan Kampus Berdampak pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

Sumber: Universitas Gadjah Mada