Neuropsikologi merupakan cabang ilmu psikologi dan neurosains yang mempelajari hubungan antara struktur maupun fungsi otak dengan proses kognitif, emosi, dan perilaku manusia. Neuropsikologi sendiri memiliki karakter yang sangat interdisipliner. Pemahaman mengenai hubungan antara otak dan perilaku tidak dapat berkembang hanya di dalam psikologi, melainkan membutuhkan keterhubungan dengan neuroscience, neurologi, psikiatri, kedokteran, rehabilitasi, dan berbagai disiplin kesehatan lainnya.

Namun pengembangan neuropsikologi di Indonesia dinilai masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara Asia seperti Taiwan, Korea Selatan, Jepang, Thailand, dan Malaysia. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan ekosistem neuropsikologi, mulai dari pendidikan, penelitian, fasilitas, sumber daya manusia, hingga jejaring praktik.

Hal itu dikemukakan oleh psikolog sekaligus pakar neuropsikologi dari Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, Supra Wimbarti, Ph.D., dalam Temu Ilmiah Nasional I Asosiasi Neuropsikologi Indonesia (TEMILNAS I ANI) 2026 di Ballroom UC, UGM, Sabtu (26/9). Dalam sesi pleno bertajuk The Struggles of Establishing Neuropsychology and Allied Disciplines in F of Psych: Expression of Experiences, Supra membagikan pengalamannya dalam membangun neuropsikologi dan disiplin terkait di lingkungan Fakultas Psikologi UGM.

Menurut Supra, salah satu tantangan dalam mengembangkan neuropsikologi adalah keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, fasilitas pendukung, serta kesempatan untuk mengembangkan penelitian dan praktik. Karena itu, berbagai komponen tersebut perlu dibangun secara beriringan. “Pendidikan perlu diperkuat oleh penelitian, penelitian perlu terhubung dengan praktik, sementara praktik profesional membutuhkan jejaring serta sistem pendukung yang memadai,” ujar Supra.

Ia menjelaskan, neuropsikologi juga memiliki karakter yang sangat interdisipliner. Pengembangannya membutuhkan keterhubungan dengan bidang lain seperti neuroscience, neurologi, psikiatri, kedokteran, dan rehabilitasi. “Kolaborasi lintas bidang tersebut diperlukan agar pengembangan keilmuan tidak berjalan secara terpisah,” jelasnya.

Supra menambahkan, penguatan neuropsikologi juga perlu didukung oleh pengembangan kurikulum, laboratorium, fasilitas penelitian, jejaring klinis, serta peningkatan kompetensi tenaga akademik dan profesional. Menurutnya, setiap komponen tersebut saling berkaitan dalam membentuk ekosistem neuropsikologi yang kuat.

Dekan Fakultas Psikologi UGM, Rahmat Hidayat, S.Psi., M.Sc., Ph.D., menilai perkembangan psikologi saat ini semakin membutuhkan pemahaman terhadap aspek biologis dan fungsi otak. Menurutnya, kehadiran asosiasi neuropsikologi menjadi bagian penting dalam membangun standar pengembangan bidang tersebut.

Dikatakan Rahmat, pengembangan neuropsikologi perlu diikuti dengan penguatan standar materi dan metode pembelajaran serta laboratorium untuk praktikum maupun penelitian. Kolaborasi antara institusi pendidikan dan asosiasi diperlukan untuk mengembangkan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat di bidang neuropsikologi.

“Di masa depan psikologi akan melahirkan banyak biological inform sehingga karakter ilmu psikologi akan menjadi semakin kuat dilandasi oleh pemahaman tentang aspek-aspek psikologi biologis dalam hal ini adalah disiplin neuropsikologi. Dengan adanya asosiasi ini, bisa menjadi satu bagian yang penting dalam upaya kita membangun standar penelitian dan pembelajaran terkait neuropsikologi sehingga penerapan ilmunya dapat bermanfaat bagi masyarakat dan bangsa,” ujar Rahmat.

Di sisi lain, pengembangan bidang tersebut juga membutuhkan penguatan dari sisi profesi. Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), Dr. Andik Matulessy, M.Si., Psikolog, mengatakan pengembangan spesialisasi neuropsikologi tidak cukup hanya dengan menambah pengetahuan mengenai sistem saraf dan fungsi kognitif.

Menurut Andik, diperlukan pendidikan profesi yang terstruktur dan berkelanjutan, disertai kejelasan kompetensi, sistem supervisi, standar praktik, serta batas kewenangan profesional. Penguatan tersebut diperlukan agar praktik neuropsikologi berjalan berdasarkan kompetensi, bukti ilmiah, dan etika profesi.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi antara HIMPSI, asosiasi keilmuan dan profesi, institusi pendidikan, serta pemangku kepentingan lainnya dalam membangun ekosistem neuropsikologi di Indonesia.

Penulis/Foto : M. Aidil Syahputra

Editor : Gusti Grehenson

Artikel Masih Tertinggal di Asia, UGM Dorong Pengembangan Pendidikan dan Riset Neuropsikologi  pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

Sumber: Universitas Gadjah Mada