Sebanyak 3.250 peserta turut memeriahkan UGM Trail Run 2026 yang digelar oleh Universitas Gadjah Mada dan Komunitas Kagama Lari untuk Berbagi (KLUB) pada 26–27 September di Gelora Hargobinangun, Kaliurang, Sleman. Memasuki edisi keenam, kegiatan yang mengusung tema Run, Edu, Care ini tidak hanya menjadi ajang olahraga lari lintas alam, tetapi juga menghadirkan edukasi kesehatan, kepedulian lingkungan, hingga manfaat ekonomi melalui sport tourism.
Penyelenggaraan UGM Trail Run 2026 sendiri memiliki kategori perlombaan yang terdiri dari (7K, 15K, 30K, dan 50K) Open & Master, serta 70K individual & relay. Sebagai pembeda dari edisi sebelumnya, kategori 77K dihadirkan sebagai representasi usia UGM yang memasuki tahun ke-77.
Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga dari luar negeri. Budi menyebut terdapat peserta dari sejumlah negara, seperti Jepang, Kolombia, Prancis, Belarusia, Republik Ceko, Jerman, Filipina, dan Rusia. Sementara peserta dari luar DIY, seperti Kalimantan, Sumatera Barat, dan daerah lainnya, juga turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
Ketua UGM Trail Run 2026, Budi Susila, mengatakan konsep Run, Edu, Care menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat kegiatan sehingga peserta tidak hanya memperoleh pengalaman berolahraga. Edukasi diberikan melalui kerja sama dengan berbagai pihak, diantaranya RSUP Dr. Sardjito, Yayasan Adem, dan Taman Nasional Gunung Merapi. “Selain event puncaknya pada saat berlari, kita juga mengadakan acara-acara yang sifatnya edukasi,” ujar Budi saat diwawancarai, Minggu (27/9).
Edukasi kesehatan, lanjutnya, antara lain diberikan melalui kerja sama dengan RSUP Dr. Sardjito berupa Talkshow pada Jumat (25/9) di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM. Masyarakat mendapatkan pengetahuan mengenai cara berolahraga sehat serta pertolongan pertama ketika pelari atau penghobi olahraga mengalami kondisi yang tidak diinginkan.
Sementara itu, aspek lingkungan dilakukan melalui kerja sama dengan Taman Nasional Gunung Merapi. Kolaborasi ini diarahkan untuk meningkatkan kepedulian peserta terhadap kondisi alam. Dalam rangkaian kegiatan, turut hadir pihak dari Kalimantan yang mengampanyekan penyelamatan hutan. Para pemenang dari maraton ini juga mendapatkan hadiah berupa pohon sebagai bagian dari upaya penghijauan.
Keselamatan peserta juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan UGM Trail Run 2026. Panitia melibatkan tim SAR di sejumlah titik serta bekerja sama dengan BMKG untuk memantau kondisi cuaca. Informasi mengenai kondisi Gunung Merapi juga diperoleh melalui koordinasi dengan PVMBG. Selain itu, panitia menggandeng komunitas trail runner untuk mendukung aspek teknis dan keamanan di lapangan. “Jadi kita menjamin rute itu memang nyaman bagi peserta. Kita bekerja sama dengan banyak instansi yang memastikan event ini bisa berjalan lancar,” kata Budi.
Selain mendorong aktivitas olahraga, UGM Trail Run 2026 memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui konsep sport tourism. Kehadiran peserta dari luar daerah dinilai dapat memberikan manfaat bagi UMKM, usaha lokal, serta sektor akomodasi di Yogyakarta dan sekitarnya. “Kita ingin ada efek domino dari event ini. Di samping peserta yang dari luar kota hadir di Jogja, Sleman, dan sekitarnya, tentunya kita ingin ada efek dari wisatawan yang datang ini. Efek ekonomi juga di sini,” ujarnya.
Semangat menjaga kesehatan melalui olahraga juga tercermin dari pengalaman peserta. Salah satunya adalah Ponco Handono, 63 tahun, finisher ke-16 dalam kategori 30K. Menurutnya, edisi kali ini lebih menantang dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Ia harus melewati tanjakan, lintasan berpasir, bebatuan, hingga medan yang semakin menantang ketika memasuki malam hari. “Kalau dibanding tahun kemarin, tahun ini lebih menantang. Ada penyeberangan sungai, kemudian batu-batunya itu kan hidup, ada pasir juga. Tanjakannya lebih tinggi, apalagi kalau malam itu lebih terasa,” jelas Ponco.
Ponco mengatakan pola hidup teratur menjadi salah satu kunci untuk menjaga kebugaran, mulai dari makan, istirahat, hingga olahraga. Ia juga tetap berlari meskipun tidak sedang mengikuti perlombaan dan melakukan latihan tanjakan serta long run sebagai bagian dari persiapannya. “Ini olahraga investasi. Investasi sehat di hari tua,” tuturnya.
Di sisi lain, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni UGM, Dr. Arie Sujito, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa UGM Trail Run merupakan bagian dari aktivitas Kagama Run yang tidak hanya membawa isu olahraga, tetapi juga kesehatan, kepedulian, dan pendidikan lingkungan. “Jadi, aktivitas ini bukan semata-mata soal sport, bukan hanya semata-mata soal olahraga, tapi juga mengenalkan kita pada alam. Sekaligus peduli karena sebagian nanti hasil dari ini untuk beasiswa para mahasiswa yang membutuhkan,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan tersebut juga sejalan dengan peran UGM sebagai kampus kerakyatan. Kegiatan yang terbuka bagi masyarakat dengan memenuhi persyaratan tersebut menjadi ruang untuk mendorong partisipasi masyarakat sekaligus memperkuat kolaborasi antara universitas dan alumni.
Penulis : M. Aidil Syahputra
Editor : Gusti Grehenson
Foto : UGM Trail Run
Artikel UGM Trail Run di Kaliurang, Sensasi Lari di Kaki Merapi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
Sumber: Universitas Gadjah Mada
Tinggalkan Komentar