Gunungkidul – Peringatan Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul menjadi momentum penting untuk menengok kembali perjalanan panjang pembentukan wilayah serta merenungkan jasa para tokoh pendahulu. Sejarah pembentukan Gunungkidul sebagai daerah administratif bermula pada awal abad ke-19, ketika wilayah selatan Yogyakarta mengalami penataan administratif pasca-Perang Jawa. Berdasarkan catatan resmi pemerintah, berdirinya Kabupaten Gunungkidul secara administratif ditetapkan jatuh pada Senin Legi (Somanis), 4 Oktober 1830.

Pada masa transisi politik dan administratif yang kompleks tersebut, Raden Mas Tumenggung Pontjodirjo diangkat sebagai bupati pertama Gunungkidul dengan pusat pemerintahan awal berada di wilayah Pati (saat ini Ponjong). Jejak sejarah pusat pemerintahan pertama ini masih terus diabadikan hingga saat ini melalui penamaan jalan di wilayah tersebut. Dalam tata kelola pemerintahan tradisional masa itu, Bupati didampingi oleh pejabat-pejabat daerah seperti ronggo, panji, demang, dan bekel yang memegang peranan dan tanggung jawab di wilayah masing-masing.
Penataan wilayah Gunungkidul juga berkaitan erat dengan dinamika politik Mataram dan Yogyakarta, mulai dari Perjanjian Salatiga pada 17 Maret 1757 hingga kesepakatan penetapan perbatasan dan penukaran wilayah pada 27 September 1830 yang mengukuhkan posisi Gunungkidul sebagai kabupaten di bawah Kasultanan Yogyakarta.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan hari jadi yang ke-196, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar kegiatan ziarah makam mantan bupati Gunungkidul. Acara ziarah ini diawali di kompleks pasarian atau makam almarhum Raden Mas Tumenggung Pontjodirjo, Selasa, (29/9/2026) kemudian dilanjutkan ke Makam Mantan Bupati Gunungkidul yang ada di Kabupaten Gunungkidul, salah satunya di Makam Prof. Dr. Ir. H. Sumpeno Putro, M.Sc. yang bertempat di Pasarian Munggang, Kalurahan Umbulrejo, Kapanewon Ponjong.
Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, bersama jajaran Forkopimda seperti Dandim dan Dandenma, Sekda, para staf ahli, asisten Sekda, pimpinan Perangkat Daerah (OPD), Panewu Ponjong, pimpinan BUMD, serta unsur pemerintah kelurahan meliputi Lurah Umbulrejo, pamong, Bamuskal, Dukuh, dan warga masyarakat setempat. Selain unsur pemerintahan, hadir pula keluarga besar dan ahli waris almarhum Prof. Dr. Ir. H. Sumpeno Putro, M.Sc.
Perwakilan keluarga almarhum, Rispiantoro, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas perhatian pemerintah daerah yang menggelar tradisi ziarah tersebut. Dalam sambutannya, Ia memanjatkan doa agar almarhum Prof. Sumpeno Putro diampuni segala dosanya, dihindarkan dari siksa kubur, dan mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Di samping itu, pihak keluarga juga memanjatkan doa bagi kepemimpinan Bupati Endah Subekti Kuntariningsih agar senantiasa dianugerahi kesehatan, umur panjang, serta ketangguhan dalam memimpin masyarakat Gunungkidul menuju kehidupan yang ayom, ayem, toto, titi, tentrem.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menegaskan bahwa tradisi ziarah ini bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan sebuah ruang refleksi spiritual dan bentuk penghormatan luhur atas pengabdian para pendahulu, “Bahwa rekam jejak, tenaga, dan pikiran yang didedikasikan almarhum Prof. Sumpeno Putro telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan Bumi Handayani.” kata Bupati.
Peringatan Hari Jadi ke-196 ini mengusung tema “Gayeng Guyub Waras Ragane, Tentrem Atine”. Bupati menjelaskan bahwa tema tersebut memuat tiga pilar keharmonisan hidup masyarakat Gunungkidul, yakni semangat kebersamaan dan kekeluargaan, raga yang sehat, serta kedamaian batin dan kehidupan sosial yang seimbang. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus memelihara persatuan, bekerja tulus, dan meneladani keteladanan para pimpinan terdahulu demi mewujudkan Gunungkidul Raya yang adil, makmur, lestari, dan berkeadaban.
Sumber: Pemkab Gunungkidul
Tinggalkan Komentar