Pendidikan merupakan investasi strategis yang proses transformasinya berlangsung terus-menerus. Perguruan tinggi perlu memikirkan kesiapan mahasiswa ketika mereka meninggalkan kampus dan memasuki kehidupan yang terus berubah. Ukuran keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada kelulusan, melainkan pada kemampuan lulusan menghadapi dunia yang belum sepenuhnya dapat diprediksi. Oleh karenanya perubahan menjadi bagian dari kehidupan perguruan tinggi, mulai dari kurikulum, metode pembelajaran, hingga hubungan dengan dunia industri dan masyarakat.
Hal itu mengemuka dalam workshop ELEVATE Higher Education (HE) Workshop 2: The Modern Curriculum & Graduate Readiness yang berlangsung pada 28–30 September 2026 di Kampus UGM yang mempertemukan perwakilan dari 11 perguruan tinggi di Indonesia untuk membahas transformasi kurikulum dan kesiapan lulusan menghadapi perubahan dunia kerja serta masyarakat.
Salah satu pengajar dari dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Tsinghua Southeast Asia, Prof. Edward Crawley, mengatakan universitas sebagai bagian dari ekosistem masyarakat yang lebih luas. Ia menjelaskan bahwa pendidikan, riset, dan inovasi merupakan aktivitas utama perguruan tinggi yang perlu terhubung dengan industri, pemerintah, lembaga kebudayaan, organisasi nirlaba, serta institusi pendidikan lainnya.
Menurutnya, hubungan tersebut dibangun melalui knowledge exchange sehingga sumber daya dan aktivitas perguruan tinggi dapat menghasilkan lulusan, pengetahuan, penemuan, dan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Dengan demikian, universitas perlu memikirkan bukan hanya apa yang dikerjakan di dalam kampus, tetapi juga bagaimana aktivitas tersebut menghasilkan pengaruh bagi mitra dan masyarakat. “Universitas tidak akan berhasil memberikan pengaruh kepada masyarakat jika hanya memikirkan apa yang mereka kerjakan sendiri,” jelas Crawley.
Sementara Prof. Hamish Coates dari Australian National University turut menyoroti pentingnya mengarahkan transformasi pendidikan tinggi pada hasil yang dirasakan masyarakat. Ia menilai kontribusi perguruan tinggi perlu dilihat dari dampak yang dihasilkan melalui pendidikan, riset, dan keterlibatan dengan komunitas, bukan semata dari infrastruktur yang dimiliki. Dalam konteks perubahan teknologi, ia juga mengingatkan perguruan tinggi agar tidak sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menentukan sendiri bagaimana teknologi digunakan untuk memperkuat proses pendidikan. Menurutnya, investasi perguruan tinggi perlu diarahkan pada pembaruan kurikulum dan peningkatan kualitas pengalaman belajar mahasiswa. “Kita harus berfokus pada hasil yang dirasakan masyarakat,” tegas Coates.
Gagasan transformasi sistem pendidikan tinggi kemudian dilanjutkan Prof. Mats Hanson dari Royal Institute of Technology KTH Swedia, UID, dan Tsinghua Southeast Asia. Ia menjelaskan bahwa ELEVATE HE dikembangkan melalui proses yang mencakup tahap konsepsi, desain, implementasi, hingga pengoperasian program transformasi di perguruan tinggi. Menurutnya, perubahan di tingkat universitas membutuhkan keterlibatan banyak orang dari institusi yang sama agar terbentuk massa kritis yang mampu menggerakkan perubahan secara kelembagaan.
Lebih lanjut, Dr. Suyoto dari United in Diversity menekankan bahwa pendidikan merupakan investasi strategis yang proses transformasinya berlangsung terus-menerus. Menurutnya, perubahan perlu menjadi bagian dari kehidupan perguruan tinggi, mulai dari kurikulum, metode pembelajaran, hingga hubungan dengan dunia industri dan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa perguruan tinggi perlu memikirkan kesiapan mahasiswa ketika mereka meninggalkan kampus dan memasuki kehidupan yang terus berubah. Karena itu, ukuran keberhasilan pendidikan tidak berhenti pada kelulusan, melainkan pada kemampuan lulusan menghadapi dunia yang belum sepenuhnya dapat diprediksi. “Ketika kita berhenti mentransformasi universitas, kurikulum, cara mengajar, serta cara terhubung dengan industri, berarti kita menghentikan proses transformasi itu sendiri,” ungkapnya.
Direktur Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. dr. Gandes Retno Rahayu, PhD, mengatakan pengembangan kurikulum adaptif sebagai respons upaya perguruan tinggi dalam menghadapi dampak perubahan pengetahuan, teknologi, karakteristik mahasiswa, mobilitas pendidikan, dan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, dalam rancangan kurikulum adaptif, mahasiswa tetap diarahkan memiliki kedalaman keilmuan pada program studi masing-masing sekaligus memperoleh ruang untuk mengembangkan kompetensi lintas disiplin. Pilihan tersebut antara lain diwujudkan melalui skema second major, minor, intensifikasi, fast track, double degree, dan joint degree sesuai dengan struktur dan kebutuhan pendidikan masing-masing. “Kita perlu terus melakukan inovasi karena perubahan akan selalu terjadi dan setiap perubahan menghadirkan peluang,” ungkap Gandes.
Gandes menjelaskan, kurikulum adaptif diharapkan dapat memperkuat pengalaman belajar mahasiswa di luar struktur mata kuliah reguler. Salah satu contohnya adalah pengembangan digital humanities dan sustainable future skills yang dirancang untuk membekali mahasiswa menghadapi perubahan teknologi sekaligus memahami keberlanjutan lingkungan.
Ia menceritakan pengalaman UGM dalam pengembangkan kembali bobot dan pendekatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dengan menekankan pengalaman belajar dan dampak nyata mahasiswa di masyarakat. Pengalaman mahasiswa selama kegiatan di luar kelas diarahkan menjadi bagian dari perjalanan pembentukan kompetensi dan kontribusi sosial selama masa studi. “Dampak menjadi kunci dari proses tersebut. Mahasiswa perlu menerapkan pengetahuan yang dimiliki sekaligus memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” kata Gandes.
Perspektif mengenai kesiapan lulusan kemudian diperluas oleh Mariam Kartikatresni, Founder and Managing Director YINOA Eduhub, yang melihat tantangan perguruan tinggi dari perubahan dunia yang berlangsung cepat. Perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial membuat perguruan tinggi perlu mempertanyakan kembali bagaimana pendidikan menyiapkan mahasiswa untuk masa depan. Kesiapan lulusan, menurutnya, tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan memperoleh pekerjaan, melainkan kesiapan menghadapi kehidupan dan perubahan yang terus berlangsung.
Sekedar informasi, workshop yang diikuti 11 perguruan tinggi di Indonesia ini diharapkan menghasilkan komitmen kepemimpinan dan membentuk tim internal ELEVATE HE di masing-masing institusi. Peserta juga diarahkan memilih program sarjana atau magister yang akan menjalani transformasi struktural serta mulai menyusun peta kompetensi yang menghubungkan tujuan pembelajaran dengan kebutuhan industri dan nasional. Workshop ini menjadi bagian dari program ELEVATE HE Indonesia yang dirancang untuk memperkuat kepemimpinan perguruan tinggi, memodernisasi kurikulum, mengintegrasikan kemampuan digital dan kecerdasan artifisial, serta meningkatkan kesiapan lulusan.
Penulis: Triya Andriyani
Foto: Firsto
Artikel Kurikulum Adaptif, Cara Kampus Mencetak Lulusan Siap Kerja pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
Sumber: Universitas Gadjah Mada
Tinggalkan Komentar