Sebanyak 424 mahasiswa internasional dari 53 negara yang tengah menempuh studi di kampus UGM mengikuti rangkaian penutupan Program for International Orientation and New-student Empowerment to Enhance Readiness (PIONEER). Mereka mengenakan baju khas budaya masing-masing bahkan ada juga mahasiswa asing yang mengenakan busana jawa. Sebagai penutup rangkaian PIONEER 2026, kegiatan ini diisi dengan sesi berbagi pengalaman, pertunjukan seni dan budaya, serta sajian kuliner dari berbagai negara.
Beberapa mahasiswa nampak belajar membatik dengan menggunakan canting di selembar kain yang sudah ada polanya. Bahkan beberapa mahasiswa dari timur tengah memperkenalkan kuliner dari negara mereka untuk dicicipi dari mahasiswa lainnya. Di sudut yang lain, ada mahasiswa asal benua Afrika menunjukkan kepiawaian nya memainkan ukulele.
Di sesi acara, para peserta diajak berdiskusi untuk menyampaikan testimoninya terkait pengalamannya selama belajar di Yogyakarta. Pengalaman mengikuti pendidikan di Indonesia juga dibagikan oleh Zahraa Alhousin, mahasiswa program double degree Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM dari Hochschule Pforzheim, Jerman. Zahraa mengaku memilih mengikuti program double degree karena ingin memiliki waktu lebih panjang untuk mengenal Indonesia, termasuk budaya dan alamnya.
“Saya merasa satu semester di Indonesia terlalu singkat untuk mengeksplorasi budaya, alam, dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya. Karena itu, saya membutuhkan waktu satu tahun untuk mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin. Bagi saya, mengikuti program double degree merupakan pilihan yang saling menguntungkan, baik dari sisi pendidikan maupun pengalaman,” ungkapnya Jumat (25/9), di pelataran Museum UGM.
Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan mahasiswa internasional dan kunjungan ke stan kuliner yang menghadirkan sajian dari berbagai negara. Kehadiran stan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal kekayaan kuliner dunia sekaligus berinteraksi secara langsung dengan mahasiswa internasional dari berbagai latar belakang budaya
Perjumpaan mahasiswa lokal dan internasional tidak hanya menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, tetapi juga memperluas pemahaman mengenai keberagaman budaya dan semangat membangun interaksi serta jejaring di antara mahasiswa dari berbagai negara.
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc., menyampaikan bahwa keberagaman latar belakang mahasiswa yang berkumpul di UGM merupakan kesempatan untuk saling mengenal dan memahami.
Menurutnya, pengalaman belajar di perguruan tinggi tidak hanya diperoleh melalui pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga melalui interaksi dan persahabatan dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang. “Belajar di perguruan tinggi, khususnya di UGM, tidak hanya tentang belajar di ruang kelas, belajar statistik, matematika, atau bahasa Indonesia. Yang lebih penting adalah membangun persahabatan dengan mahasiswa di Yogyakarta,” tuturnya.
Ia berharap, pengalaman yang diperoleh mahasiswa internasional selama berada di UGM dan Yogyakarta dapat dibawa kembali ke negara asal. Pengalaman tersebut dapat dibagikan kepada keluarga, teman, maupun mahasiswa lainnya sehingga semakin banyak generasi muda yang memiliki kesempatan untuk mengenal Indonesia dan UGM. “Silakan nikmati masa tinggal kalian di Yogyakarta. Nikmati keramahan budaya Yogyakarta, kuliner, dan berbagai pengalaman lainnya,” katanya.
Penulis : Cyntia Noviana
Editor : Gusti Grehenson
Foto : Donnie
Artikel Kemeriahan International Cultural Day UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.
Sumber: Universitas Gadjah Mada
Tinggalkan Komentar