Bupati Abdul Halim Muslih meminta seluruh lurah terpilih merangkul warga tanpa membeda-bedakan pendukung. Dari 30 kalurahan, 16 dipimpin lurah baru dan 14 kembali dipimpin petahana.
BANTUL, Saatini.com – Sebanyak 30 lurah terpilih di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), resmi mengemban amanah baru. Namun, Bupati Bantul Abdul Halim Muslih langsung mengingatkan mereka agar tidak hanya melayani kelompok pendukung atau tim sukses selama menjalankan pemerintahan kalurahan.
Halim menegaskan bahwa seorang lurah harus menjadi pemimpin bagi seluruh warga, bukan hanya orang-orang yang mendukungnya dalam pemilihan. Karena itu, ia meminta para lurah yang baru dilantik merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan pilihan politik mereka.
"Para lurah ini harus mengetahui posisinya, mengetahui tugasnya. Lurah adalah milik seluruh warganya, bukan milik timsesnya saja sehingga semuanya harus dirangkul," kata Halim seusai melantik 30 lurah terpilih di Pendopo Parasamya, Kantor Bupati Bantul, Kamis.
Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan pemerintah kabupaten setelah proses pemilihan lurah di 30 kalurahan selesai. Halim ingin para pemimpin kalurahan segera bekerja untuk kepentingan masyarakat luas, bukan mempertahankan kepentingan kelompok selama masa pemilihan.
30 Kalurahan Punya Lurah Terpilih, 16 Diisi Wajah Baru
Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul Agus Budi Raharja menjelaskan bahwa pemilihan lurah berlangsung di 30 kalurahan yang tersebar di 15 kapanewon. Rangkaian tahapan pemilihan berlangsung sejak Mei hingga November 2026.
Pemungutan suara berlangsung pada 4 Oktober 2026. Dalam proses tersebut, sebanyak 87 orang mendaftarkan diri sebagai calon lurah.
Dari hasil pemilihan, sebanyak 14 petahana berhasil kembali memperoleh kepercayaan untuk memimpin kalurahan masing-masing. Jumlah tersebut terdiri atas 12 laki-laki dan dua perempuan.
Sementara itu, 16 lurah baru akan memulai masa kepemimpinan mereka. Komposisinya terdiri atas 13 laki-laki dan tiga perempuan.
Dengan demikian, lebih dari separuh posisi lurah di 30 kalurahan tersebut akan diisi oleh pemimpin baru. Adapun 14 petahana kembali melanjutkan kepemimpinan setelah memenangkan pemilihan.
Bupati Minta Lurah Baru Evaluasi Program Pemerintahan Sebelumnya
Selain mengingatkan soal kepemimpinan yang inklusif, Halim meminta para lurah terpilih mempelajari kembali program dan kegiatan pemerintahan pada periode sebelumnya. Langkah tersebut penting agar mereka mengetahui capaian, kekurangan, serta hal-hal yang perlu diperbaiki.
Menurut Halim, pergantian kepemimpinan harus menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemerintahan kalurahan. Karena itu, lurah terpilih tidak boleh langsung menjalankan program tanpa memahami kondisi dan rekam jejak pemerintahan sebelumnya.
"Lurah-lurah yang terpilih ini harus kembali belajar, meninjau program kegiatan yang terjadi di periode yang lalu untuk dilakukan perbaikan-perbaikan," katanya.
Evaluasi program juga menjadi bekal bagi lurah dalam menentukan langkah pemerintahan berikutnya. Dengan memahami kegiatan periode sebelumnya, mereka dapat menyusun perbaikan sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing.
Empat Tugas Pokok Lurah yang Tak Bisa Dianggap Sepele
Halim mengingatkan bahwa jabatan lurah membawa tanggung jawab besar karena mencakup empat kewenangan utama. Keempatnya meliputi penyelenggaraan pemerintahan desa, pelaksanaan pembangunan desa, pemberdayaan masyarakat desa, serta pembinaan kemasyarakatan desa.
Keempat bidang tersebut menuntut lurah memiliki kesungguhan dalam menjalankan tugas sehari-hari. Sebab, tanggung jawab pemimpin kalurahan tidak hanya berkaitan dengan urusan administrasi, tetapi juga menyangkut pembangunan dan kehidupan sosial masyarakat.
"Ini tugas yang tidak ringan, yang harus dijalani dengan penuh keikhlasan dan kesungguhan," ujar Halim.
Karena itu, para lurah perlu memahami seluruh kewenangan yang melekat pada jabatan mereka. Kemampuan menjalankan pemerintahan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab terhadap pembangunan dan pemberdayaan warga.
Tak Cukup Pintar Administrasi, Lurah Harus Punya Kecerdasan Sosial
Halim juga menilai seorang lurah tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknokratis. Mereka perlu memiliki kecerdasan sosial agar mampu memahami karakter, kebutuhan, dan kondisi sosiologis masyarakat di wilayahnya.
Kemampuan tersebut penting karena setiap kalurahan memiliki dinamika masyarakat yang perlu dipahami oleh pemimpinnya. Dengan kecerdasan sosial, lurah dapat membangun komunikasi, merangkul berbagai kelompok, serta menjaga hubungan antarelemen warga.
"Dia harus punya daya analisis teknokratis tapi juga harus punya kecerdasan sosial, ya, kecerdasan yang memungkinkan dia bisa merangkul, memahami kondisi sosiologis masyarakatnya," ujarnya.
Artinya, pemimpin kalurahan harus mampu menggabungkan kemampuan analisis pemerintahan dengan pendekatan sosial. Keduanya dibutuhkan agar kebijakan dan program pembangunan dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat.
Tanggung Jawab Lurah Makin Besar, Harus Pahami Aspek Hukum
Menurut Halim, pekerjaan seorang lurah saat ini semakin kompleks. Selain mengelola pemerintahan dan pembangunan, mereka juga harus memahami aspek teknokratis serta legal dalam penyelenggaraan pemerintahan kalurahan.
Pemahaman terhadap aturan menjadi penting agar setiap keputusan dan program berjalan sesuai ketentuan. Di sisi lain, kemampuan teknis membantu lurah mengelola kegiatan pemerintahan secara tepat dan terarah.
Halim menegaskan bahwa jabatan lurah bukan pekerjaan yang bisa dijalankan dengan mengandalkan kemenangan dalam pemilihan semata. Setelah pelantikan, para pemimpin tersebut harus membuktikan kemampuan melalui kerja nyata dan pelayanan kepada masyarakat.
"Jadi, tidak mudah jadi lurah hari ini, tanggung jawabnya besar," katanya.
Pesan Bupati Bantul: Kemenangan Pilkades Harus Berujung pada Pelayanan
Pelantikan 30 lurah terpilih menandai dimulainya tanggung jawab baru bagi para pemimpin kalurahan di Bantul. Mereka kini harus mengubah dukungan saat pemilihan menjadi kepercayaan yang dijaga melalui pelayanan kepada seluruh warga.
Komposisi 16 lurah baru dan 14 petahana juga membawa tantangan berbeda dalam menjalankan pemerintahan. Pemimpin baru perlu memahami kondisi pemerintahan yang mereka terima, sedangkan petahana harus mengevaluasi program periode sebelumnya agar dapat melakukan perbaikan.
Pesan Halim menegaskan bahwa keberhasilan seorang lurah tidak cukup diukur dari kemenangan dalam pemilihan. Kemampuan mengelola pemerintahan, mendorong pembangunan, memberdayakan masyarakat, dan merangkul seluruh warga menjadi bagian penting dari tanggung jawab mereka. (*)
Tinggalkan Komentar