Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan kegiatan Refleksi dan Penguatan Gerakan Literasi Tahun 2026 di Aula Ranggawarsita, Balai Bahasa DIY, pada Selasa, 3 November 2026. Kegiatan ini diikuti para pegiat literasi dan pengelola taman bacaan masyarakat (TBM) di DIY.
Kegiatan diawali dengan penyampaian laporan oleh Ahmad Khoirus Salim, S.S., selaku koordinator kegiatan. Ia memaparkan hasil evaluasi pelaksanaan gerakan literasi selama satu tahun terakhir, termasuk berbagai kendala yang dihadapi di lapangan. Ia berharap seluruh TBM di DIY dapat terus meningkatkan kualitas pengelolaan dan kelembagaan.
Setelah penyampaian laporan, kegiatan dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY, Toha Machsum, M.Ag. Ia menekankan pentingnya sinergi antarlembaga untuk memperkuat budaya literasi masyarakat.
Memasuki sesi inti, Retno Utami, S.Pd., M.Hum., bertindak sebagai moderator yang memandu pemaparan materi dari kedua narasumber. Pemateri pertama, Indra Suryanto, S.T., yang mewakili Forum TBM, mengajak peserta untuk sejenak berhenti dari berbagai kesibukan dan meninjau kembali perjalanan komunitas masing-masing. Jeda tersebut, menurut Indra, diperlukan agar komunitas dapat mengevaluasi langkah-langkah yang telah ditempuh sebelum melanjutkan perjalanan ke tahap berikutnya.
Indra menegaskan bahwa refleksi bukanlah forum untuk mencari kesalahan ataupun menentukan pihak yang harus disalahkan. Sebaliknya, refleksi merupakan ruang yang positif dan konstruktif untuk mengidentifikasi perubahan, mengukur manfaat kegiatan bagi masyarakat, serta menemukan hal-hal yang perlu diperbaiki. Ia juga mengulas perubahan lanskap literasi sejak 2010. Jika sebelumnya kegiatan literasi banyak berfokus pada buku, kini media sosial turut menjadi bagian dari perkembangan literasi sehingga perspektif dan ruang geraknya semakin beragam.
Lebih lanjut, ia memaparkan konsep Tiga Pilar Pendampingan Komunitas yang meliputi pengelolaan komunitas, kelengkapan administrasi, dan pemeliharaan motivasi secara konsisten. Ketiga aspek tersebut dapat diukur melalui “termometer komunitas” untuk mengetahui perkembangan, efektivitas pengelolaan, dan keberlanjutan komunitas literasi.
Selanjutnya, Ayu Purbasari, salah satu pendiri Rumah Dongeng Mentari, menyampaikan materi bertajuk “Merawat Cerita, Menumbuhkan Komunitas”. Ia mengisahkan perjalanan Rumah Dongeng Mentari yang berdiri pada 2010 dan bermula dari sebuah teras rumah. Gerakan tersebut berawal dari kegemaran adiknya mendongeng yang kemudian berkembang menjadi kegiatan rutin. “Gerakan itu dimulai dari hal sederhana,” tuturnya.
Menurut Ayu, mendongeng merupakan kegiatan yang bermakna bagi anak-anak. Selain menjadi sarana untuk menikmati cerita, kegiatan ini juga membuka ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri melalui peran tokoh, musik, dan berbagai karya yang dapat mereka buat dan bawa pulang.
Pada sesi tersebut, Atisah Salid dari TBM Jendela Dunia turut membagikan pengalamannya dalam mendampingi anak-anak pascagempa Yogyakarta melalui kegiatan mendongeng. Kegiatan tersebut menjadi salah satu upaya pemulihan trauma (trauma healing) sekaligus penguatan semangat masyarakat setelah bencana.
Ayu juga menekankan pentingnya kolaborasi dan jejaring dalam mengembangkan komunitas. Menurutnya, tidak ada komunitas yang dapat memenuhi seluruh kebutuhannya sendiri. Oleh karena itu, pegiat literasi perlu menjalin kerja sama dengan berbagai pihak yang memiliki tujuan sejalan. Rumah Dongeng Mentari, misalnya, menjalin kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan pejabat publik.
Menutup paparannya, Ayu mengajak peserta merenungkan tujuan gerakan yang mereka jalankan melalui dua pertanyaan, “Apa yang sebenarnya ingin kita rawat? Siapa yang ingin kita beri ruang untuk tumbuh?” Pertanyaan tersebut menjadi pengingat bahwa gerakan literasi bukan sekadar menjalankan kegiatan, melainkan juga merawat nilai dan membuka ruang bagi masyarakat untuk berkembang.
Sumber: Balai Bahasa Provinsi DIY
Tinggalkan Komentar