KULON PROGO, jogja.saatini.com - Perum Bulog Kantor Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatatkan capaian kinerja positif sepanjang periode Januari hingga Oktober 2026. BUMN pangan tersebut berhasil menyerap sebanyak 217.000 ton beras hasil panen dari para petani lokal di wilayah DIY.

Capaian melonjak signifikan ini secara resmi melampaui target awal tahun yang ditetapkan pemerintah, yakni sebesar 165.000 ton.

Kepala Perum Bulog DIY, Dedy Apriyadi, menegaskan bahwa tingginya angka penyerapan ini menjadi modal kuat dalam menjaga stabilitas serta memperkokoh cadangan pangan daerah maupun nasional.

"Total penyerapan beras dari petani lokal DIY telah mencapai 217.000 ton. Angka tersebut melampaui target awal tahun yang dipatok sebesar 165.000 ton," ujar Dedy Apriyadi di Kulon Progo, Jumat (23/10/2026).

Sokong Pasokan Luar Daerah Hingga Saluran Bantuan Pangan KPM

Melimpahnya stok beras lokal tidak hanya dimanfaatkan untuk mengamankan kebutuhan pangan di seluruh kabupaten/kota wilayah Yogyakarta, tetapi juga turut menyokong ketercukupan pasokan di wilayah Indonesia lainnya.

Sebagai bukti nyata pemerataan distribusi, sebanyak 5.000 ton beras hasil panen petani DIY telah dikirimkan untuk memperkuat cadangan pangan di wilayah Kalimantan.

Selain itu, Dedy memastikan bahwa beras hasil penyerapan lokal ini dialokasikan 100 persen untuk menyukseskan program Bantuan Pangan Pemerintah yang ditujukan kepada Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

"Langkah ini memastikan kualitas beras bantuan yang diterima masyarakat merupakan kualitas terbaik, segar, dan diambil langsung dari hasil keringat petani setempat," tegasnya.

Sinergi dan Bantuan Alsintan Kunci Utama Swasembada

Kinerja impresif penyerapan beras di Yogyakarta mendapat apresiasi langsung dari Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto (Titiek Soeharto), serta jajaran pemerintah daerah setempat.

Sinergi yang solid antara kebijakan penyerapan pro-petani oleh Bulog, pengawasan legislatif, serta penyaluran bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dinilai menjadi fondasi utama keberhasilan ini. Pola kerja sama terpadu tersebut terbukti efektif menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus mempercepat terwujudnya target swasembada pangan nasional.