Persoalan kesehatan mental tidak selalu dapat dikenali melalui kondisi fisik seseorang. Tekanan pekerjaan, paparan media sosial, kelelahan digital, hingga perubahan sosial dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis, tetapi kerap luput dari perhatian hingga berkembang menjadi masalah yang lebih serius. Penanganannya pun tidak cukup mengandalkan layanan medis, melainkan membutuhkan keterlibatan keluarga, komunitas, dan berbagai disiplin ilmu. Berangkat dari persoalan tersebut, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Summer Course 2026 on Interprofessional Healthcare: Modern Mental Wellness – Science-Based Strategies for Emotional Resilience pada 26 Oktober–6 November 2026.

Program yang mengangkat tema “Modern Mental Wellness: Science-Based Strategies for Emotional Resilience” ini diikuti 56 mahasiswa sarjana dan pascasarjana dari Indonesia, Belanda, Pakistan, dan Thailand. Kegiatan tersebut juga menghadirkan akademisi dan pakar dari Taiwan, Swedia, Amerika Serikat, Malaysia, Australia, dan Inggris untuk memberikan perspektif lintas disiplin dan negara mengenai pengembangan strategi kesehatan mental berbasis bukti ilmiah.

Ketua Panitia Summer Course, dr. Dwi Aris Agung Nugrahaningsih, M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa kesehatan mental masih sering terabaikan karena kondisinya tidak selalu terlihat secara langsung seperti gangguan kesehatan fisik. Padahal, persoalan psikologis dapat dialami siapa saja dan berpotensi memengaruhi kondisi kesehatan secara keseluruhan. “Kesehatan mental itu sering kali terlupakan dibandingkan kesehatan fisik. Kalau kesehatan fisik, kondisinya terlihat, sedangkan kesehatan mental tidak terlalu kelihatan sampai kondisinya parah. Karena itu, kesehatan mental perlu mendapatkan perhatian,” jelasnya.

Dwi menerangkan bahwa Summer Course merupakan program tahunan yang telah diselenggarakan sejak 2016 dengan melibatkan kolaborasi lintas fakultas di UGM, termasuk Fakultas Farmasi dan Fakultas Kedokteran Gigi. Pada penyelenggaraan kali ini, ketahanan emosional (emotional resilience) menjadi perhatian utama, yakni kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan, mengelola stres dan emosi, beradaptasi terhadap perubahan, serta menjaga keseimbangan psikologis dalam berbagai situasi kehidupan.

Pembahasannya mencakup berbagai tantangan kesehatan mental yang dekat dengan kehidupan modern. Peserta mempelajari pengaruh media sosial, durasi penggunaan layar, hiper-konektivitas, kelelahan digital, dan perundungan siber terhadap kesejahteraan psikologis. Pemanfaatan teknologi juga menjadi bagian dari diskusi, khususnya kecerdasan artifisial (artificial intelligence), terapi digital, dan layanan kesehatan mental jarak jauh sebagai alternatif untuk memperluas akses terhadap dukungan psikologis.

Selain itu, materi perkuliahan mencakup pendekatan kognitif dan perilaku berbasis bukti, pengelolaan stres dan emosi, kualitas tidur, aktivitas fisik, keselarasan ritme sirkadian, serta mindfulness. Peserta juga diperkenalkan pada praktik sederhana untuk mengelola kecemasan, termasuk pengaturan pernapasan dan pola pikir positif. Pembahasan kesehatan secara holistik turut mencakup pemanfaatan pengobatan tradisional, herbal, dan bahan alami, termasuk jamu.

Setelah mengikuti perkuliahan bersama para pakar selama tiga hari, peserta melanjutkan pembelajaran melalui kegiatan lapangan di 10 Puskesmas di Kabupaten Kulon Progo. Kesepuluh Puskesmas tersebut meliputi Temon 1, Panjatan 1 dan 2, Galur 1, Sentolo 1 dan 2, Pengasih 1 dan 2, Girimulyo 1, serta Kalibawang.

Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berkesempatan mengidentifikasi persoalan kesehatan mental di masyarakat melalui wawancara dengan tenaga kesehatan dan kader, serta berinteraksi langsung dengan pasien dan keluarga. Hasil pengamatan kemudian menjadi bahan bagi peserta untuk merumuskan gagasan program kesehatan masyarakat sebagai bagian dari tugas akhir.

Menurut Dwi, pengalaman lapangan tersebut penting agar mahasiswa tidak hanya memahami kesehatan mental dari perspektif fasilitas kesehatan, tetapi juga melihat kondisi yang dihadapi masyarakat secara langsung. “Mahasiswa perlu memahami bahwa persoalan kesehatan mental tidak hanya ditemukan di rumah sakit atau klinik. Di masyarakat pun terdapat berbagai kasus yang perlu diperhatikan. Dengan bekal yang sudah diberikan, mereka dapat melihat persoalan tersebut dan memberikan masukan berdasarkan ilmu yang diperoleh,” tuturnya.

Salah satu kegiatan lapangan berlangsung di Puskesmas Temon 1. Kepala Puskesmas Temon 1, dr. Setiaji Wibowo, menyampaikan bahwa wilayah kerjanya memiliki sekitar 72–73 orang dengan gangguan jiwa berat yang didampingi oleh 32 kader kesehatan jiwa di delapan kalurahan. Selama kegiatan, mahasiswa melakukan wawancara untuk memahami persoalan kesehatan jiwa, termasuk motivasi dan tantangan yang dihadapi kader dalam menjalankan pendampingan.

Mahasiswa juga mengikuti kunjungan rumah (home visit) untuk bertemu langsung dengan pasien dan keluarga. Dalam kegiatan tersebut, mereka diperlihatkan bahwa penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) memerlukan koordinasi antara fasilitas kesehatan, pemerintah kalurahan, keluarga, dan unsur masyarakat lainnya.

“Penanganan ODGJ tidak bisa dari sektor kesehatan saja. Ketika turun ke lapangan, kita membutuhkan upaya lintas sektor untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai penanganan pasien. Hal ini membutuhkan kolaborasi,” ungkap Setiaji.

Selain pendampingan pasien, Puskesmas Temon 1 memperkenalkan program pemberdayaan melalui komunitas Bank Sahabat. Komunitas ini melibatkan penyandang disabilitas, termasuk orang dengan gangguan psikososial dan disabilitas fisik, dalam kegiatan produktif yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anggota.

Kegiatan yang dilakukan antara lain pembinaan pengelolaan sampah dan budidaya ikan lele. Dalam pelaksanaannya, anggota tetap memperoleh pendampingan dari keluarga maupun pendamping lainnya. Dukungan pemerintah kalurahan juga menjadi bagian dari keberlangsungan kegiatan pemberdayaan tersebut.

Pada kesempatan yang sama, mahasiswa Summer Course turut memberikan penyuluhan kepada kader dari delapan kalurahan. Kegiatan lainnya dilaksanakan bersama kelompok pasien dan keluarga melalui self-help group (SHG) dan terapi aktivitas kerja (TAK). Pesertanya meliputi penyandang disabilitas, orang dengan gangguan psikososial, keluarga atau pendamping, serta kader kesehatan.

Aktivitas kelompok tersebut mencakup senam, permainan, berbagi pengalaman antara pasien dan keluarga, serta kegiatan keterampilan seperti kerajinan tangan. Melalui aktivitas bersama, peserta memperoleh ruang untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan mengembangkan kemampuan dalam lingkungan yang mendukung.

Setiaji menjelaskan bahwa kegiatan pendampingan yang dilakukan secara rutin menunjukkan sejumlah perkembangan positif. Angka kekambuhan pasien disebut mengalami penurunan, sedangkan jumlah pasien yang menjalani pengobatan secara rutin semakin meningkat. Bahkan, beberapa di antaranya telah mampu menjalankan aktivitas secara mandiri dan memperoleh penghasilan.“Ada teman-teman yang sudah bisa mandiri. Artinya, mereka bisa bekerja dan mencari uang. Ada yang menjadi guru les, ada juga yang menjadi peternak,” paparnya.

Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FK-KMK UGM, dr. Ahmad Hamim Sadewa, Ph.D., menyampaikan bahwa perguruan tinggi memiliki kontribusi penting dalam menjawab kebutuhan tenaga profesional dan pengembangan layanan kesehatan mental. Kontribusi tersebut dilakukan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, kompetensi kesehatan mental tidak hanya dikembangkan melalui pendidikan psikologi dan kedokteran jiwa, tetapi juga melibatkan bidang keperawatan serta disiplin ilmu lainnya. Lulusan perguruan tinggi diharapkan dapat berkontribusi secara langsung sebagai tenaga profesional maupun melalui berbagai kegiatan pelayanan kepada masyarakat.

Ia menambahkan bahwa dosen dengan kompetensi di bidang kesehatan mental telah menjalankan berbagai program pengabdian secara berkelanjutan dengan melibatkan mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa dapat mulai berkontribusi dalam penanganan persoalan kesehatan mental sejak masih menempuh pendidikan, tanpa harus menunggu hingga lulus.

“Tidak hanya dosen, mahasiswa juga dilibatkan dalam berbagai program yang dilakukan secara berkelanjutan. Jadi, mahasiswa tidak perlu menunggu sampai lulus untuk bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat,” jelasnya.

Setelah menyelesaikan pembelajaran lapangan di Puskesmas Temon 1, peserta dijadwalkan kembali ke kampus pada Kamis (5/11) untuk mempresentasikan hasil pengamatan dan pembelajaran dari masyarakat. Hasil tersebut diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan gagasan program yang kontekstual dengan kebutuhan masyarakat dan kondisi pelayanan kesehatan primer di Indonesia.

Penulis : Zabrina Kumara

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Jesi

Artikel UGM Ajak Mahasiswa Internasional Pahami Persoalan Kesehatan Mental Lewat Summer Course pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

Sumber: Universitas Gadjah Mada