Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan tajam setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Kondisi ini menjadi peringatan bagi otoritas pasar modal untuk memperkuat transparansi dan keterbukaan informasi guna memulihkan kepercayaan investor.

Guru Besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Prof. Dr. R. Agus Sartono, MBA., mengatakan prinsip keterbukaan merupakan prasyarat utama bagi pasar modal untuk berjalan secara efisien, mengingat pasar modal berperan sebagai sarana transaksi antara pihak yang memiliki kelebihan dana dan pihak yang membutuhkan pendanaan. Karena itu, menurut Agus, keterbukaan informasi diperlukan demi mengatasi asimetri informasi, mencegah praktik perdagangan orang dalam (insider trading), serta menghindari manipulasi harga aset. “Prinsip keterbukaan adalah napas sekaligus syarat utama satu pasar modal. Tanpa keterbukaan informasi, pasar modal tidak dapat berfungsi secara efisien,” ujarnya, kamis (22/10).

Menurut pandangan Agus, minimnya keterbukaan informasi membuat investor kesulitan memperkirakan nilai wajar aset, yakni seperti saham dan obligasi. Ketidakpastian tersebut lah, ditegaskan oleh Agus, akan meningkatkan risiko investasi karena keputusan harus diambil berdasarkan informasi yang tidak memadai. “Ya, akibatnya investor dapat meminta premi risiko yang lebih tinggi sehingga nilai aset berpotensi turun atau harus dijual dengan harga diskon,” ungkapnya.

Ia menerangkan, sedari awal 2026 MSCI sudah memberikan sinyal peringatan kepada otoritas bursa perihal pentingnya meningkatkan transparansi, terutama terkait dugaan perdagangan terkoordinasi (coordinated trading) dan keterbukaan kepemilikan manfaat (beneficial ownership). Lebih lanjut, perbaikan juga mencakup peningkatan porsi saham yang beredar di publik (free float) menjadi 15 persen serta transparansi kepemilikan saham di atas 1 persen.

Soal MSCI mengumumkan usulan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia menjadi standalone market. Bagi Agus, situasi ini menunjukkan pentingnya tindak lanjut konkret dari otoritas pasar modal untuk menjawab persoalan transparansi dan juga menjaga kepercayaan investor.

Menanggapi perubahan klasifikasi pasar tersebut, Agus berpendapat bahwa salah satu risiko yang dapat muncul ialah arus keluar modal (capital outflow). Dana investasi global yang dikelola manajer investasi besar berpotensi dialihkan ke pasar lain yang dinilai lebih aman. Agus melihat bahwa kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan jual terhadap saham-saham Indonesia, terutama pada perusahaan berkapitalisasi besar di sektor perbankan dan energi, dan dapat menekan valuasi perusahaan.

Tak hanya itu, persepsi negatif terhadap status pasar saham Indonesia juga mempengaruhi kredibilitas perusahaan nasional ketika mencari pinjaman komersial dari luar negeri. “Lagi-lagi cost of fund meningkat dan rentetan berikutnya penyaluran kredit melambat. Pertumbuhan ekonomi terganggu, dampak yang tak kalah penting terkait pengangguran serta daya beli masyarakat bisa jadi turun. Jadi, ini semacam vicious cycle atau lingkaran setan,” pungkas Agus.

Selain dari sisi pasar saham, Agus juga menyoroti tentang pelemahan nilai tukar rupiah yang dipengaruhi berbagai faktor eksternal dan domestik. Dari sisi eksternal, tekanan tersebut berkelindan dengan sentimen terhadap pasar saham Indonesia, kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, serta ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan akibat tingginya inflasi di negara tersebut.

Sementara itu, dari dalam negeri sendiri, pelemahan rupiah juga erat kaitannya dengan kekhawatiran terhadap keberlanjutan pendanaan program-program berskala jumbo, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), dan rasio pembayaran utang (debt service ratio).

Menurut Agus, pelemahan rupiah sudah barang pasti meningkatkan beban pembayaran utang luar negeri sekaligus biaya impor bahan baku dan energi. Kondisi tersebut, sambungnya, berpotensi menambah beban biaya produksi industri. “Bagi industri pilihannya juga tidak banyak. Menaikkan harga jual tidak akan membantu karena daya beli masyarakat rendah,” tuturnya,

Di akhir, Agus menyimpulkan bahwa gejolak pasar keuangan Indonesia saat ini tidak dapat dilepaskan dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Oleh karena itu, pemulihan kepercayaan investor mesti menjadi perhatian utama, dan disertai langkah konkret demi memperbaiki transparansi dan tata kelola pasar modal serta mengantisipasi kemungkinan memburuknya kondisi pasar. “Kita sedang menghadapi multifaktor dan kebetulan saling terkait. Pemulihan kepercayaan menjadi yang utama dan tidak kalah penting mengantisipasi jika getting worse,” tutupnya.

Penulis : Agito Sitepu

Editor : Gusti Grehenson

Foto : Magnific

Artikel IHSG Melemah, Otoritas Bursa Didesak Perkuat Transparansi dan Bebas Manipulasi pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

Sumber: Universitas Gadjah Mada