Bantul, dprd-diy.jogjaprov.go.id – Komisi C DPRD DIY melakukan Kunjungan Dalam Daerah (KDD) untuk meninjau permasalahan talud saluran pembuang (afour) Sungai Apur Purbosari di Padukuhan Tluren, Kelurahan Tirtomulyo, Kapanewon Kretek, Kabupaten Bantul, Selasa (29/09/2026).

Kunjungan dipimpin Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, bersama anggota Komisi C, yakni Cintya Amanda Labetta Arie Seno, S.H., M.H., H. Ispriyatun Katir Triatmojo, Drs. H. Suwardi, Raden Inoki, A.P., S.Ag., Dr. H. Aslam Ridlo, M.A.P., Timbul Suryanto, dan Lilik Saiful Ahmad, S.P.

Turut hadir Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase (SDAD) Dinas PUP-ESDM DIY, Subarja, Lurah Tirtomulyo Ridwan Anas, perwakilan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO) Djohar dan Wuri, perwakilan Kapanewon Kretek Taufiq Ismail, perwakilan Bidang Sumber Daya Air Dinas PUP-ESDM DIY Bagyo, serta PPTK Maryanto, S.H., M.M. Peninjauan juga diikuti tokoh masyarakat dan warga Padukuhan Tluren.

Dalam kunjungan tersebut, Komisi C DPRD DIY menerima penjelasan mengenai kondisi saluran pembuang Sungai Apur Purbosari yang dilaporkan kerap mengalami luapan ketika terjadi peningkatan debit air dari bagian hulu maupun saat dilakukan pembukaan pintu tampungan air.

Luapan air tersebut berdampak pada lahan pertanian di sekitar saluran. Berdasarkan keterangan yang disampaikan dalam pertemuan, puluhan hektar lahan persawahan produktif terdampak sehingga mengganggu pola tanam petani. Pada kondisi tertentu, luapan juga mencapai pekarangan dan rumah warga yang berada di sekitar saluran.

Wakil Ketua Komisi C DPRD DIY, Amir Syarifudin, mengatakan peninjauan dilakukan untuk melihat secara langsung kondisi di lapangan sekaligus menghimpun informasi dari masyarakat dan instansi teknis terkait.

“Kami hadir langsung untuk melihat kondisi riil di lapangan. Persoalan ini harus segera kita petakan dan koordinasikan bersama instansi terkait, baik dari dinas provinsi maupun Balai Besar. Penanganannya harus menyeluruh, mulai dari tata kelola bukaan pintu air di hulu hingga kebutuhan penguatan fisik tanggul di hilir agar warga tidak terus merasa was-was,” ujar Amir.

Menurut Amir, penanganan persoalan tersebut membutuhkan koordinasi lintas instansi karena berkaitan dengan kondisi saluran di bagian hulu dan hilir. Hasil peninjauan selanjutnya menjadi bahan untuk mengawal tindak lanjut sesuai kewenangan masing-masing pihak.

Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD DIY, Drs. H. Suwardi, menyoroti dampak luapan terhadap aktivitas pertanian warga. Kondisi saluran yang belum tertangani secara permanen disebut menyulitkan petani dalam menentukan pola dan waktu tanam.

“Dampaknya sangat dirasakan petani di sini karena serba nanggung; mau tanam jagung tidak bisa, tanam padi pun berisiko terendam banjir luapan. Ini menyangkut mata pencaharian warga, sehingga penataan saluran dan pembangunan talud permanen harus segera kita dorong bersama demi melindungi lahan pertanian mereka,” kata Suwardi.

Dari sisi teknis, Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase (SDAD) Dinas PUP-ESDM DIY, Subarja, menjelaskan bahwa penanganan saluran perlu mempertimbangkan kondisi secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Evaluasi teknis diperlukan untuk menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan kondisi dan kapasitas saluran.

“Selain usulan peninggian tanggul dan pembangunan talud permanen, kami juga perlu menyinkronkan tata kelola pengaturan pintu air di hulu agar tidak terjadi pembuangan debit air secara mendadak yang membebani kapasitas saluran di Tirtomulyo ini. Kami akan segera mengoordinasikan langkah teknisnya bersama BBWSSO dan dinas di kabupaten,” jelas Subarja.

Lurah Tirtomulyo, Ridwan Anas, menyampaikan bahwa pemerintah kelurahan bersama masyarakat sebelumnya telah melakukan upaya penanganan secara swadaya untuk mengurangi dampak luapan air. Salah satunya dengan memasang sekitar 1.500 karung pasir dan membuat bangketan darurat.

Namun, upaya tersebut belum mampu bertahan ketika terjadi luapan dengan debit yang tinggi. Menurut Ridwan, masyarakat berharap terdapat penanganan yang lebih permanen terhadap saluran tersebut, termasuk peninggian tanggul dan pembangunan talud.

“Kami sudah berusaha membendung secara swadaya dengan sekitar 1.500 karung pasir dan sempat membuat bangketan darurat, namun roboh kembali karena dorongan debit air yang meluap tinggi. Warga sangat berharap saluran ini bisa ditinggikan sekitar 30 hingga 40 sentimeter serta dibangun talud permanen agar air tidak lagi meluap ke pemukiman dan sawah,” tutur Ridwan.(cla/fr)

The post Atasi Luapan Saluran Afour Purbosari di Tirtomulyo, Komisi C Dorong Pembangunan Talud Permanen appeared first on DPRD DIY.

Sumber: DPRD DIY