Lebih dari 200 peserta dari berbagai negara mengikuti International Conference on Community Engagement and Education for Sustainable Development (ICCEESD) yang memasuki tahun keempat. Tahun ini, ICCEESD berkolaborasi dengan One Young World ASEAN Leadership Forum dan RCE Yogyakarta International Youth Conference dan berlangsung pada Kamis (1/10) di Fakultas Teknik UGM. Kolaborasi tersebut mempertemukan pemuda dari berbagai latar belakang untuk membahas tantangan pembangunan berkelanjutan di kawasan ASEAN sekaligus merumuskan langkah yang dapat diterapkan di masyarakat.

One Young World Coordinating Ambassador for Southeast Asia, Janu Muammad, mengatakan forum ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk membangun jejaring dan mengubah gagasan menjadi aksi kolaboratif. “Sekarang, ASEAN mengalami tantangan kompleks dan tantangan konektif dari perubahan iklim ke keamanan makanan hingga transformasi digital, pendidikan, kesejahteraan penduduk dan kesejahteraan sosial dan keamanan,” ujarnya.

Janu menilai kompleksitas persoalan di kawasan membutuhkan kerja bersama antarpemuda. Melalui forum ini, peserta didorong untuk saling bertukar pengalaman, mempertemukan perspektif, dan menyusun rencana aksi yang dapat menjawab persoalan di lingkungan masing-masing. “Kami mencoba untuk mengajak anda, bagaimana untuk berkolaborasi melalui rencana aksi kolaboratif yang dapat menerjemahkan ide ke aksi,” tuturnya.

Semangat kolaborasi tersebut sejalan dengan tujuan UGM dalam mendorong keterlibatan generasi muda dalam pembangunan berkelanjutan. Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. Rustamaji, mengatakan pemuda perlu dibekali pemahaman dan komitmen yang kuat agar dapat mengambil peran dalam menjawab persoalan masyarakat pada masa mendatang.

“UGM juga mendorong tentang pemimpin muda, karena pemimpin muda adalah pemimpin kita. Jadi, jika pemimpin muda tidak memiliki informasi dan komitmen yang cukup dalam pembangunan berkelanjutan, mungkin kita akan menghadapi beberapa kesulitan dalam kegiatan masyarakat di masa depan,” ujarnya.

Menurut Rustamaji, persoalan pendidikan dan lingkungan di Indonesia membutuhkan keterlibatan mahasiswa dan generasi muda dalam menemukan solusi. Forum internasional seperti ICCEESD dapat menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman dari berbagai konteks dan mengembangkan gagasan yang dapat ditindaklanjuti. “Kami berharap konferensi ini menjadi forum yang dinamis bagi para peserta untuk berbagi kegiatan, berbagi pengalaman, dan mungkin menghasilkan kebijakan baru serta beberapa hal yang dapat menjadi solusi bagi pemerintah di masa depan,” katanya.

Persoalan pembangunan berkelanjutan juga disoroti dari perspektif pemerintah daerah. Wali Kota Yogyakarta, dr. Hasto Wardoyo, yang hadir secara daring sebagai keynote speaker, menggarisbawahi pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi perubahan demografi dan berbagai persoalan sosial yang menyertainya.

Ia menjelaskan bahwa kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor penting dalam memanfaatkan bonus demografi. Generasi muda juga perlu memiliki kemampuan untuk bekerja dan menciptakan lapangan pekerjaan sehingga pertumbuhan jumlah penduduk usia produktif dapat berkontribusi terhadap kesejahteraan. “Ketika generasi muda itu bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan kemudian bisa menyerap tenaga kerja, maka harapan baik untuk kita supaya betul-betul bisa tercapai kesejahteraan bisa diharapkan,” ujarnya.

Selain demografi, Hasto mengangkat isu lingkungan sebagai persoalan yang membutuhkan aksi bersama. Di Yogyakarta, pemerintah kota mengembangkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan generasi muda.

Upaya tersebut dilakukan melalui pemilahan dan pengolahan sampah, pengelolaan sampah organik, penggunaan wadah berulang, serta pengembangan bank sampah. Bagi Hasto, keterlibatan generasi muda penting untuk menjaga keberlanjutan berbagai inisiatif lingkungan sekaligus mengembangkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Ia juga menyinggung tantangan UMKM di tengah perkembangan ekonomi digital. Menurutnya, generasi muda perlu membangun kemandirian ekonomi dan mengembangkan potensi ekonomi kreatif agar tidak sepenuhnya bergantung pada ekosistem digital yang ada. “Karena itu anak-anak muda, marilah kita berdikari dalam bidang ekonomi, karena tanpa kemandirian digital, kita akan jatuh ke dalam ketergantungan pada kelompok ekonomi tertentu,” pungkasnya.

Gagasan mengenai kolaborasi dan aksi nyata kemudian diperdalam dalam sesi pleno bertajuk “Turning Ideas into Action: Youth Collaborating for ASEAN’s Future”. Dalam sesi tersebut, Prof. Ir. Nizam selaku perwakilan Guru Besar UGM memaparkan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) sebagai salah satu model pembelajaran yang mempertemukan mahasiswa dengan persoalan nyata di masyarakat. “KKN adalah pelayanan kepada masyarakat, tinggal bersama dengan penduduk, dan menyelesaikan masalah bersama dengan masyarakat,” jelasnya.

Nizam menjelaskan, KKN UGM melibatkan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu untuk memahami persoalan secara langsung dan merancang penyelesaian bersama masyarakat. Pendekatan multidisiplin memungkinkan mahasiswa menggabungkan pengetahuan dari berbagai bidang sekaligus belajar dari kondisi lokal. “KKN adalah multidisiplin dan menyelesaikan masalah. Mereka tidak bekerja sendiri. Mereka memiliki program yang mendukung, mengembangkan, dan belajar dari satu sama lain,” tuturnya.

KKN juga dikembangkan berdasarkan kebutuhan masyarakat dan pemerintah daerah. Mahasiswa terlebih dahulu mempelajari persoalan yang dihadapi masyarakat sebelum menyusun program, sehingga kegiatan yang dijalankan tidak berhenti pada kehadiran mahasiswa selama masa pengabdian. “Kita belajar dari pemerintah lokal mengenai masalah mereka dan mencari penyelesaian untuk masalah tersebut,” ujarnya.

Bagi Nizam, keberlanjutan menjadi bagian penting dalam setiap program KKN. Mahasiswa perlu memastikan bahwa program yang dirintis dapat dilanjutkan oleh masyarakat setelah masa pengabdian berakhir. “Program ini tidak seharusnya menjadi milik para pelajar, tetapi seharusnya menjadi milik orang lokal,” katanya.

Nizam memaparkan bahwa sejumlah program KKN UGM juga telah mengintegrasikan SDGs dalam kegiatan di lapangan, mulai dari ketahanan pangan, kesehatan, hingga ekologi. Pengalaman tersebut, menurut Nizam, menunjukkan bahwa SDGs dapat dipelajari bukan sekadar sebagai konsep, melainkan melalui persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.

Pengalaman KKN tersebut kemudian membuka peluang untuk memperluas model kolaborasi serupa ke tingkat regional. Nizam melihat kerja sama antarnegara di Asia dapat menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar bersama masyarakat sekaligus berkontribusi terhadap persoalan pembangunan yang memiliki karakter berbeda di setiap wilayah.

“Mengapa kita tidak memperluas kolaborasi internasional ke negara-negara Asia dan bekerja bersama di kawasan ini?” pungkasnya.

Melalui rangkaian sesi tersebut, ICCEESD mempertemukan gagasan dari pemuda, perguruan tinggi, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk melihat pembangunan berkelanjutan dari perspektif yang beragam. Kolaborasi lintas sektor dan lintas negara menjadi salah satu pendekatan yang ditawarkan untuk membawa gagasan dari ruang diskusi menuju aksi di masyarakat.

Penulis  : Zabrina Kumara

Editor    : Gusti Grehenson

Foto     : Donnie

Artikel Jejaring Pemuda ASEAN Diajak Merawat Lingkungan dan Membangun Kesejahteraan pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

Sumber: Universitas Gadjah Mada