Pada Kamis, 8 Oktober 2026, Pemenang Duta Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) 2026, Gayuh dan Krisna, berbagi pengalaman selama mengikuti Pemilihan Duta Bahasa Nasional melalui sebuah siniar bersama Balai Bahasa Provinsi DIY. Keduanya juga memaparkan program Krida Swara, yakni Sastra Wicara Ramah Anak. Program tersebut mengalihwahanakan naskah kuno Sestra Ageng Adidarma menjadi media pembelajaran bagi anak-anak sekolah dasar dan siswa sekolah luar biasa (SLB).
Gayuh merupakan mahasiswa Program Studi Agroindustri dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang berasal dari Jawa Tengah. Sebelum mengikuti ajang Duta Bahasa, ia aktif sebagai pewara dan fasilitator pelatihan komunikasi bagi mahasiswa baru UGM pada 2023. Ia mengikuti ajang tersebut dengan harapan dapat memperluas dampak kegiatannya, tidak terbatas pada lingkungan kampus. Sementara itu, Krisna berasal dari Palu, Sulawesi Tengah. Sebagai perantau, ia ingin mempelajari bahasa daerah sekaligus menemukan “rumah” baru di Yogyakarta.
Perjalanan keduanya diawali dengan terpilihnya mereka sebagai Duta Bahasa DIY pada Mei 2026 dilanjutkan dengan penyusunan program krida. Persiapan program untuk tingkat nasional berlangsung selama 1 bulan, yakni pada Juni 2026. Pada Juli 2026, keduanya terjun langsung menemui siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah luar biasa (SLB) untuk melaksanakan program tersebut. Swara merupakan pengembangan dari program Krida Duta Bahasa DIY 2024 yang juga mengalihwahanakan naskah kuno menjadi bahan edukasi bagi anak-anak usia sekolah dasar.
Program Swara berangkat dari keprihatinan terhadap kebiasaan berbahasa anak-anak, khususnya kecenderungan menggunakan ungkapan kasar dalam bahasa Jawa dibandingkan dengan menggunakan bahasa Jawa krama ketika berkomunikasi dengan orang tua dan orang-orang di sekitarnya. Naskah kuno dipilih sebagai sumber pembelajaran unggah-ungguh berbahasa dan etika. Gagasan program ini memadukan ide komik dari Gayuh dengan ide permainan kebahasaan daerah dari Krisna.
Program tersebut menghasilkan komik tiga dimensi, buku digital, dan buku audio dalam tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan bahasa Jawa. Versi bahasa Indonesia dibacakan oleh siswa SLB, sedangkan versi bahasa Inggris dan bahasa Jawa dibacakan oleh sesama Duta Bahasa DIY tahun 2026. Pelibatan siswa SLB sebagai pengisi suara menunjukkan bahwa mereka tidak hanya menjadi sasaran program, tetapi juga berperan aktif dalam menghasilkan produk literasi yang inklusif.
Gayuh dan Krisna mengungkapkan bahwa suasana Pemilihan Duta Bahasa Nasional lebih terasa sebagai ajang yang mempererat relasi daripada sekadar kompetisi. Mereka menjalin persahabatan dengan peserta dari berbagai daerah, antara lain DKI Jakarta, Bali, Sumatera Barat, Gorontalo, dan Bengkulu. Mereka juga kerap saling mengajarkan bahasa Jawa. Dalam kegiatan tersebut, keduanya membawa slogan Cerdas Berbahasa, Istimewa Tuturnya, Istimewa Orangnya.
Keduanya menyadari bahwa banyak program krida tidak berlanjut setelah masa jabatan duta bahasa berakhir. Oleh karena itu, mereka berharap kolaborasi dengan Pura Pakualaman, Ikatan Duta Bahasa DIY, dan Balai Bahasa Provinsi DIY dapat terus berlanjut. Mereka juga berencana mengangkat naskah-naskah lain dari Pura Pakualaman ke dalam bentuk visual, buku digital, dan rekaman suara agar dapat diakses oleh lebih banyak orang, termasuk mereka yang memiliki hambatan dalam membaca. Ke depannya, mereka berharap Swara dapat terus berkembang menjadi program yang semakin inklusif dan berkelanjutan.
Pada akhir siniar, Krisna menyampaikan pesan yang dikaitkannya dengan penulis Seth Godin tentang pentingnya memulai sesuatu daripada terus menunggu hingga semuanya sempurna. Ia mengajak generasi muda untuk berani memulai dan menjalani proses. Sementara itu, Gayuh mengutip pesan Ali bin Abi Thalib bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
Sumber: Balai Bahasa Provinsi DIY
Tinggalkan Komentar