Mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) mengembangkan Ostosense, sebuah inovasi sabuk medis pintar yang dirancang untuk mendeteksi risiko kebocoran kantong stoma. Stoma adalah lubang buatan pada lapisan perut yang digunakan sebagai jalur pembuangan zat sisa pencernaan, seperti feses. Inovasi ini dikembangkan sebagai upaya membantu pasien stoma menghadapi salah satu permasalahan yang kerap terjadi dalam penggunaan kantong stoma, yakni kebocoran.

Kebocoran kantong stoma tidak hanya dapat menimbulkan masalah fisik, seperti iritasi pada kulit di sekitar stoma dan bau tidak sedap, tetapi juga dapat mengganggu mobilitas serta aktivitas sehari-hari pasien. Kondisi tersebut bahkan dapat memengaruhi aspek psikologis dan menimbulkan rasa khawatir atau ketidaknyamanan dalam menjalankan aktivitas di luar rumah.

Pengembangan Ostosense dilakukan oleh tim program yang terdiri dari Putri Eka Desintha sebagai ketua, bersama Hamzah Abdul Aziz dari S1 Teknik Elektro, Markus Adytama Wisnumaya Nugraha Jati dari D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dan Kontrol, serta Rasyadwa Arsya Irnantyanto dan Marcellinus Dinoglide Yoga Prakoso dari S1 Teknologi Informasi. Tim tersebut mengembangkan inovasi di bawah bimbingan dosen pendamping Ir. Ridwan Wicaksono, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM.

Ketua Tim Ostosense, Putri Eka Desintha dari Program Studi S1 Ilmu Keperawatan, menjelaskan bahwa sistem tersebut dirancang dengan dua jalur deteksi yang saling melengkapi. Jalur pertama menggunakan sensor kapasitif dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang diproses secara lokal pada perangkat (edge AI) untuk mengenali pola yang mengindikasikan risiko kebocoran sebelum terjadi. Sementara itu, jalur kedua menggunakan sensor resistif berbasis LIG sebagai sistem fail-safe yang tetap dapat mendeteksi kebocoran aktual ketika model AI mengalami kendala.

“Inovasi ini menggabungkan sistem prediktif berbasis sensor kapasitif dan AI lokal dengan sistem fail-safe berbasis sensor resistif LIG. Dengan pendekatan ini, alat tidak hanya mendeteksi kebocoran yang sudah terjadi, tetapi juga mengenali pola risiko sebelum kebocoran terjadi sehingga pengguna dapat melakukan tindakan pencegahan lebih awal,” jelas Putri, Kamis (01/10).

Untuk memastikan inovasi yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan pengguna, tim melakukan kunjungan dan diskusi bersama tenaga kesehatan yang menangani pasien stoma. Salah satunya dilakukan di Griya Puspa Wound Care, Caturharjo, Sleman, Yogyakarta, bersama Indaryati, S.Kep., Ners., RN, WOC(ET)N, perawat klinis spesialis stoma sekaligus pendiri Jogja Nursing Center.

Masukan dari tenaga kesehatan tersebut menjadi salah satu bagian dalam proses pengembangan Ostosense ini agar teknologi yang dirancang dapat menyesuaikan kebutuhan pasien dalam penggunaan sehari-hari. Kehadiran sistem deteksi dini ini diharapkan dapat membantu pasien kolostomi mengenali peningkatan risiko kebocoran sehingga tindakan pencegahan dapat dilakukan sebelum kebocoran berkembang lebih parah dan menembus baseplate.

Ke depan, tim PKM berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan menjadi alat yang bermanfaat, terjangkau, dan mudah digunakan bagi pasien yang membutuhkan stoma. Pengembangan lebih lanjut diharapkan dapat memperluas manfaat Ostosense dalam mendukung kemandirian pasien serta meningkatkan kenyamanan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. “Kami berharap Ostosense bisa terus dikembangkan agar nantinya dapat menjadi alat yang bermanfaat dan mudah digunakan, sekaligus membantu pasien dengan gangguan sistem pencernaan yang memerlukan pembuatan stoma,” pungkas Putri.

Penulis : Adinda Putri Rahma

Editor : Gusti Grehenson

Foto         : Tim PKM

Artikel Ostosense, Sabuk Medis Pintar Pendeteksi Kebocoran Kantong Stoma Karya Mahasiswa UGM pertama kali tampil pada Universitas Gadjah Mada.

Sumber: Universitas Gadjah Mada